Pemimpin ala Rasulullah sebagai motivasi Muslim

Kepercayaan Muhammad Aslam 12-Jun-2020
Pemimpin ala Nabi? © Elmirex2009 | Dreamstime.com

Sebagai Nabi terakhir dalam sejarah penyebaran Agama Islam, kepemimpinan Rasulullah SAW sepantasnya dijadikan panutan bagi umat Muslim di dunia. Nabi Muhammad telah melakukan lima peranan kepemimpinan semasa hidupnya menurut karya Imam al-Qarrafi pada tahu 684 Hijriah.

Peranan tersebut di antaranya sebagai pendakwah dan pemimpin umat Islam, sebagai pemimpin di masyarakat dan sebagai hakim penengah dalam setiap permasalahan di masyarakat. Sifat kepemimpinan Rasulullah juga terpancar dari cara beliau membawa keluarganya sebagai suami yang baik bagi istri-istri dan anak-anaknya.

Kesadaran dalam diri bahwa setiap insan adalah pemimpin

Setiap insan manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya kelak di akhirat. Hal ini tertuang pada hadith Riwayat Bukhari dan Muslim. Tak hanya itu, seorang pemimpin di tengah-tengah kaum akan dimintai pertanggungjawabannya. Bahkan seorang suami, istri, asisten rumah tangga, anak laki-laki dan semua manusia akan ditanyai perihal kepemimpinannya di dunia.

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa seorang kepala negara  tidak boleh semena-mena terhadap rakyatnya. Seorang pemimpin seharusnya menyadari bahwa semakin besar amanah yang dipikul, maka akan semakin berat pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Hal ini nampaknya dipahami betul oleh Nabi Muhammad. Sementara sebagai khalayak umum, sebaiknya menuruti apa yang pimpinan sampaikan selama tidak menyimpang dari jalan Allah. Anjuran ini juga telah dituliskan di Al-Quran Surah An-Nisa, ayat 59.

Menghadapi permasalahan dengan jalur diskusi

Sifat Rasulullah SAW lainnya dalam menyikapi suatu permasalahan adalah menyelesaikannya dengan diskusi atau musyawarah. Musyawarah dilakukan agar dapat memutuskan suatu permasalahan secara bersama-sama. Musyawarah yang notabene dilakukan diskusi interaktif juga dapat membuka sudut pandang dari pemikiran lain. Sehingga ide-ide akan pemecahan masalah akan dapat bervariasi.

Perihal musyawarah tertulis pada Al-Quran dalam surah Aali Imran, ayat 159. Ayat tersebut mengajak para pemimpin untuk bersikap lemah lembut dan akibat dijauhi oleh khalayak umum bila berbuat kasar. Allah SWT juga menghimbau agar memaafkan, bermohon ampun dan melakukan musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan. Selepas itu barulah kita sebagai umat muslim bertawakal kepada Allah atas segala usaha dan tekad yang telah dikerjakan.

Mengutamakan kejujuran dalam mengemban amanah

Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi yang bergelar Al-Amin yang berarti dapat dipercaya. Ini dibuktikan dalam salah satu riwayat dalam sejarah agama Islam saat Nabi dipercayakan Siti Khadijah dalam menjajakan dagangannya. Rasulullah berpegang teguh pada kejujuran dan melakukan perdagangan yang sesuai konsep syariat. Kejujuran dalam berdagang sudah selayaknya menjadi panutan umat Muslim dalam penerapan kehidupan sehari-hari.

Tidak membeda-bedakan status sosial masyarakat

Nabi Muhammad SAW dikenal tidak pernah membeda-bedakan status sosial, umur, jenis kelamin, agama, suku dan kekayaan masing-masing. Beliau dengan rahmat Allah SWT, menurut sebuah riwayat, bersedia membantu membawakan barang seorang nenek tua yang tidak menyukai Baginda. Nenek tersebut tidak mengetahui bahwa pemuda yang di sampingnya adalah Rasulullah. Sepanjang perjalanan, nenek tua tersebut menjelek-jelekkan Baginda. Di akhir perjalanan, akhirnya Rasulullah mengaku bahwa beliaulah Nabi Muhammad SAW. Nenek tersebut amat terharu dengan kebaikan Baginda kemudian bersyahadat.

Fatanah dalam mengatur strategi berdakwah hingga berperang  

Sifat fatanah dalam diri Nabi Muhammad SAW diartikan sebagai sosok yang memiliki kecerdasan dalam berpikir. Untuk menjadi seorang pemimpin, diperlukan kepintaran dalam hal mengatur segala sesuatunya dengan sempurna. Entah itu cerdas dalam mengatur perekonomian negara, strategi perang, strategi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan lain-lain. Rasulullah menerapkan sikap fatanah di kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam menentukan sistem perdagangan atau bisnis. Beliau berbisnis namun juga sekaligus memberi manfaat seperti membantu ekonomi orang lain.

Dalam strategi ketahanan saat perang pun, Rasulullah SAW sangat cerdik dalam mengaturnya. Rasulullah mengatur tatanan perang, merencanakan, mempersiapkan hingga mengobarkan semangat juang pasukan perang. Misalnya, ketika terjadinya Perang Badar dalam sejarah penyebaran Agama Islam, Rasulullah mengatur segala sesuatunya hingga bala tentara Muslim memperoleh kemenangan.