Pemimpin dan demokrasi khalifah selepas Rasulullah SAW

dreamstime_s_192138179
to 192138179 © Parkpoom4 | Dreamstime.com

Khalifah ar-Rasyidin yang dikenal dengan empat sahabat Rasulullah SAW memimpin umat Islam persis setelah wafat Rasulullah, mereka itu ialah Abu Bakr as-Shiddiq r.a, Umar bin Khattab r.a, Utsman bin Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a. Sistem pemerintahan dan politik yang terjadi pada masa itu sudah menunjukkan bahwa Islam selalu mengedepankan demokrasi, dimulai dari pemilihan khalifah pertama hingga ke empat.

Bukan suatu keharusan bahwa khalifah pertama adalah Abu Bakr ash-Shiddiq r.a karena tidak ada pesan Rasulullah SAW sebelum wafat terkait pemimpin setelahnya. Sehingga para sahabat memikirkan kegoncangan mereka jika tidak ada yang memimpin setelah Rasulullah.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, generasi pertama umat Islam mulai melakukan tindakan untuk menunjuk pemimpin yang menggantikan Rasulullah. Ketika itu berkumpullah di balai kota Bani Sa’idah, Madinah. Kaum Muhajirin dan Anshar mulai memperbincangkan hal tersebut, hingga akhirnya mereka mencalonkan dua kandidat yang dinilai memenuhi syarat sebagai pemimpin.

Kaum Anshar menunjuk Sa’ad Ibn Ubadah r.a dan kaum Muhajirin menunjuk Abu Bakr ash-Shidiq r.a untuk menjadi pengganti Rasulullah SAW. Hal yang mereka lakukan adalah dengan duduk bersama menetapkan siapa yang terbaik dari mereka berdua.

Pada akhirnya sesuai hasil demokrasi yang berjalan dengan baik, maka terpilihlah Abu Bakr ash-Shiddiq r.a sebagai Khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW dengan dalih bahwa usia beliau yang sudah matang untuk menjadi panutan, juga karena beliau pernah menggantikan Rasulullah menjadi imam ketika salat jemaah.

Demikian pula pada pemilihan khalifah kedua, ketiga dan keempat tidak dengan sistem monarki melainkan demokrasi yang dengan kesepakatan bersama tetapi dengan pertimbangan para sahabat yang bijaksana dalam menetapkan pemimpin.

Rasulullah SAW juga tidak menunjuk siapapun untuk menggantikan kepemimpinan beliau, melainkan umat Islam menjadi pribadi yang saling menghargai dan lapang dada sehingga selalu mengedepankan urusan umat dalam memilih pemimpin. Juga tetap menjaga ukhuwah sesama saudara seagama, maka terlaksanalah sistem pemilihan pemimpin yang disebut saat ini yaitu demokrasi.

Sesuai dengan teori yang diungkapkan Sanit, pergantian kepemimpinan pada masa Khalifah ar-Rasyidin termasuk dalam kategori demokrasi langsung. Hal ini dilihat dari adanya musyawarah mufakat para sahabat dan melibat semua pihak secara langsung.

Bahkan para sahabatpun ketika telah terpilih pemimpin di antara mereka, maka sahabat yang lain memberikan hak sumpah baiat kepada yang terpilih. Sistem kepemimpinan demikian ini tentunya sudah berkembang termasuk di kalangan Indonesia, hanya saja tidak sama persis. Setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya termasuk dalam memilih pemimpin dalam suatu wilayah.

Maka sistem demokrasi ini juga hendaknya menjadi salah satu cara dalam hal menetapkan pemimpin  karena dengan kita bermusyawarah dan mendengarkan pendapat berbagai pihak, insya Allah ketetapan tersebut terhindar dari kekeliruan.