Penamaan anak dalam Islam

Islam untuk Pemula 08 Mar 2021 Sanak
Pilihan oleh Sanak
Penamaan anak dalam Islam
Penamaan anak dalam Islam © Berkay | Dreamstime.com

Sudah menjadi ketetapan umum di masyarakat untuk memberi nama anak yang baru lahir. Dalam Islam sangat dianjurkan kepada orang tua untuk memberi nama yang bagus untuk anaknya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dari sahabat Abu Darda r.a.

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, maka perbaguslah nama kalian.”

(Hadis riwayat Abu Daud)

Aturan dalam memberi  nama anak

Hendaknya nama anak diambil dari nama-nama tokoh agama, baik dari kalangan Rasul atau orang-orang saleh. Hal ini dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda dari Abu Wahab Aljusyami:

“Gunakanlah nama-nama para Nabi. Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, nama yang paling jujur adalah Harits dan Hammam.”

(Hadis riwayat an-Nasai, Abu Dawud, dan Ahmad)

Rasulullah SAW mencontohkan ketika diminta Ummu Fudhail untuk memberi nama anaknya. Ketika bayi itu dihadirkan, lantas Baginda memberi nama Abdullah dan mendoakan kecerdasan baginya. Doa Baginda terbukti, ialah yang kita kenal dengan Ibnu Abbas r.a, ahli tafsir yang diakui.

Rasulullah SAW mengubah nama-nama yang buruk

Termasuk sunnah Nabi Muhammad SAW adalah mengubah nama-nama yang buruk dan diganti dengan nama-nama yang baik.

Dari sahabat Ibnu Umar r.a diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW mengubah nama beberapa sahabat. Di antaranya; Ashiyah (wanita yang durhaka) menjadi Jamilah (cantik), Ashram (terpotong) diganti Zur’ah (tumbuh), Mudhthaji (berbaring) menjadi Munbaits (bangun), dan Harb (perang) diganti Aslam (tunduk).

Ketika cucu Rasulullah SAW lahir, Ali bin Abi Thalib r.a memberi nama Harb. Rasul mengganti namanya menjadi Hasan. Kejadian yang sama ketika Ali dikaruniai anak kedua dan ketiga, nama Harb yang diberi Ali diganti Rasul menjadi Husen dan Muhsin.

Rasulullah SAW pun mengajarkan agar kita memberi nama yang bagus untuk selain manusia. Seperti ketika beliau mengunjungi suatu daerah yang bernama Afirah (tandus), diubah menjadi Khadhirah (hijau).

Lembah yang bernama Dhalalah (kesesatan) diganti menjadi lembah Hidayah (petunjuk). serta Bani Azzinyah (anak-anak zina) dibuah menjadi Bani Arrisydah (anak-anak lurus).

Bagaimana nama-nama yang buruk?

Para ulama bersepakat, haram menggunakan nama dari sesuatu yang disembah selain Allah Taala, seperti Abdul Uzza, Abdul Ka’bah, Abdunnabi, Abdul Ali, Abdul Hasan dan semisalnya. Begitu juga haram menggunakan nama raja diraja seperti Qadhi Qudhah, Sayyidun Nas, Sayyidul Kul, atau pun Setan dan Firaun.

Beberapa pendapat memakruhkan menggunakan nama malaikat dan nama-nama yang berkonotasi kurang baik atau tidak pantas. Seperti pembunuh, pejantan, keledai, dan lain-lain. Hal ini dikhawatirkan akan menjadikan si anak menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Menurut Imam Ibnu Qoyyim, perbuatan baik atau buruk memiliki sebutan masing-masing. Maka nama yang baik akan mendorong pemilik nama merasa malu melakukan keburukan dan terdorong berbuat kebajikan.