Pendidikan di pesantren – adab sebelum ilmu

Pendidikan 26 Feb 2021 Sanak
Opini oleh Sanak
Pendidikan di pesantren - adab sebelum ilmu
Pendidikan di pesantren - adab sebelum ilmu © Yudhistirama | Dreamstime.com

Sudah sebelas kali perubahan kurikulum di negeri tercinta membuktikan betapa besarnya tantangan di dunia pendidikan. Penulis tidak dalam posisi mengkritisi apa yang sudah dimusyawarahkan oleh orang-orang hebat di ibu kota negara.

Namun, hanya ingin berbagi sedikit kenangan ketika menimba ilmu di pondok pesantren.

Mengenal pendidikan di pesantren

Masuk pesantren bagi sebagian besar santri adalah keinginan sendiri dengan cita-cita besar untuk menjadi pribadi yang paham agama (Tafaqquh Fiddin). Bagi yang terpaksa biasanya akan dikeluarkan secara paksa atau pindah secara sukarela.

Motivasi kuat dari diri sendiri menyebabkan proses pembelajaran di dalam kelas sangat kondusif walaupun cenderung monoton setiap harinya. Hal ini bisa dilihat dari pembelajaran membaca kitab kuning yang merupakan ciri khas di pesantren. Tuan guru atau Ustadz membaca kitab dengan sesekali menjelaskan maknanya, santri menyimak dengan seksama.

Penghargaan santri terhadap semua guru sangat luar biasa. Tegur dan sapa sudah membudaya. Santri menjabat dan mencium tangan guru setiap kali berjumpa. Malahan ada sebagian mereka yang menghentikan aktivitas dan menunduk tanda takzim.

Minuman seperti kopi susu atau teh telur telah tersedia di atas meja sebelum guru mangajar dan itu dari iuran santri. Tidak ada keterpaksaan karena keikhlasan akan berbalas keihklasan juga. Itulah sepenggal kenangan, sederhana tapi sangat bermakna.

Adab sebelum ilmu

Dalam al-Quran disebutkan bahwa orang yang hatinya sudah tertutup tidak berguna baginya pelajaran dan peringatan. Dalam ruang lingkup pendidikan, perlu usaha bersama untuk membuka hati peserta didik untuk nantinya mau menuntut ilmu.

Secara fisolosofi ilmu itu dituntut bukan diterima. Menuntut artinya berkeinginan kuat untuk mendapatkannya, sedangkan menerima bisa diartikan pasrah dalam dua pilihan, jika suka akan diterima dan ditolak bila sebaliknya.

Ulama-ulama terdahulu mengajarkan untuk belajar adab terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu. Kaedah inilah yang dijaga dalam budaya pesantren sampai sekarang. Adab membuat pembelajaran yang membosankan akan bernilai sakral dan guru yang mengajarkan akan dihargai.

Maka seorang anak yang meraih prediket juara olimpiade fisika internasional, masihkah perlu belajar fisika di kelas bersama gurunya. Menurut penulis, sangat perlu. Karena kelas bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan, tapi juga untuk belajar sikap yang baik atau adab. Karena orang beradablah yang akan membuat peradaban di masa mendatang.