Pengabdian dan pengorbanan Sultan Syarif Kasim II

Budaya Sanak 11-Okt-2020
368px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Sultan_van_Siak_TMnr_60027152

Banyak tokoh yang telah berjuang demi tegaknya Negara Indonesia. Di antara mereka ada yang dikukuhkan namanya sebagai pahlawan nasional. Salah satunya adalah Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin, atau yang lebih sering dikenal dengan nama Sultan Syarif Kasim II.

Penentang kaum penjajah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Sultan yang diangkat ketika umur 21 ini lahir pada tanggal 1 Desember 1893 di Siak, Sri Indrapura, Riau. Beliau raja kedua belas dari Kesultanan Siak yang didirikan oleh Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723.

Syarif Kasim II sudah menempatkan diri sebagai penentang kaum penjajah di awal-awal pemerintahannya. Meskipun begitu, beliau menyadari bahwa melawan Belanda melalui adu fisik sama saja bunuh diri. Maka dipakailah cara yang lebih elegan tanpa diketahui.

Sultan yang dinobatkan pada tahun 1915 ini merancang beberapa program yang meningkatkan kualitas sumber daya manusia rakyat. Di antaranya mendirikan madrasah yang bersebelahan dengan sekolah kepunyaan Belanda.

Beliau juga menyediakan perahu gratis bagi penuntut ilmu, dan adanya program beasiswa untuk murid yang berbakat agar dapat melanjutkan studi di Padang, Medan, maupun Batavia. Tak sebatas itu saja, diam-diam sang sultan memberi dukungan kepada pemberontak yang tidak terima menjadi pekerja paksa.

Bantuan dana juga diberikan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan rakyat, memberikan fasilitas pelatihan kemiliteran kepada kaum pemuda, hingga menentang kebijakan romusa oleh pemerintahan pendudukan Jepang pada 1942.

Berdiri teguh di belakang NKRI, menyerahkan 13 juta gulden

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Syarif Kasim II menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Inderapura berdiri teguh di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak hanya itu, beliau juga menyerahkan mahkota dan nyaris seluruh kekayaannya sebesar 13 juta gulden.

Jika ditakar dengan ukuran sekarang, nominalnya kira-kira setara 69 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah. Itu semua diberikan secara cuma-cuma oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Presiden Sukarno.

Sang sultan yang rupawan ini tercatat pernah tinggal di Jakarta, Aceh, dan Singapura. Kemudian pada tahun 1960 kembali ke kampung halamannya hingga meninggal pada 23 April 1968.

Walaupun telah memberikan sumbangsih untuk negeri yang nyaris tak tertandingi, nyatanya sang sultan mendapat posisi jabatan yang berarti. Gelar kepahlawannya saja baru diterbitkan di tahun 1998, tiga puluh tahun setelah ia menghadap sang pencipta alam.

Meskipun begitu nama beliau akan selalu dikenang pada Bandar Udara Internasional, perguruan tinggi negeri, nama jalan dan tempat-tempat strategis lainnya.