Penginapan masa lalu musafir di kota: Khan, Funduq dan Wikala

dreamstime_s_78042181
Funduq al-Najjarin di kota Fez, Maroko (sekarang menjadi museum) © Saiko3p | Dreamstime.com

Pada tulisan lain, kita telah membahas Karavanserai sebagai penginapan masa lampau di luar kota. Sebagaimana kita ketahui para saudagar yang melintasi Jalur Sutra (130 Sebelum Masehi – 1453 Masehi) menghabiskan waktu yang lama, menghadapi resiko alam, seperti hujan, salju, badai, dan banjir serta bahaya perampokan.

Beruntung di sepanjang Jalur Sutra terdapat banyak Karavanserai sebagai tempat menginap. Karavanserai biasanya berbentuk benteng yang di dalamnya terdapat banyak fasilitas pendukung, seperti toko, kamar, gudang, dan juga jual beli hewan. Mereka bisa menukar hewan yang dipakai selama perjalanan dengan hewan baru agar lebih bertenaga.

Sebuah pertanyaan baru muncul. Bila telah sampai di kota, ke manakah para pelancong ini menginap? Ternyata di kota ada juga tempat menginap dengan nama Khan, Funduq atau Wikala.

Khan, Funduq dan Wikala

Khan berasal dari bahasa Persia yang merujuk pada penginapan di kota. Kata ini juga dikenal di Turki dan Bosnia dengan nama Han. Kata ini juga dipakai dalam bahasa Arab untuk menunjuk bangunan penginapan yang ditemukan sepanjang Timur Tengah sejak periode Dinasti Umayyah.

Khan biasanya dibangun di dekat pasar dengan disain struktur yang lebih rumit, megah dengan pilar-pilar kokoh, dan berlantai marmer. Para pengunjung boleh menginap untuk jangka waktu panjang atau pendek. Bahkan ia juga bisa menyewa toko terdekat untuk keperluan niaga.

Sementera Funduq merupakan sebutan penginapan bersejarah di Maroko dan sepanjang Afrika Barat Laut. Kata Funduq berasal dari bahasa Yunani; Pandocheion yang berarti ‘Penginapan’. Kata ini juga ditemukan dalam bahasa Arab, Hebrew, Venice, dan Spanyol dengan derivasi yang berbeda-beda.

Satu kata lagi yang muncul adalah Wikala dalam bahasa Arab untuk penyebutan Karavanserai di Mesir. Wikala merupakan sebuah rumah yang digunakan sebagai pusat  dagang, penyimpanan, transaksi, dan aktivitas komersial lainnya.

Meeting point berbagai suku bangsa, ras, dan agama

Walaupun demikian, Ibnu Batutah (Lahir 1304) tidak menyebut Wikala saat di Mesir, ia tetap menggunakan Khan untuk menyebut penginapan. Dalam buku Rihlah, ia menulis:

“Di setiap tempat antara Kairo dan Gaza, para pelancong turun. Di luar khan, ada keran air untuk umum dan toko tempat orang dapat membeli apa yang ia butuhkan untuk dirinya dan hewan tunggangannya.”

Baik Karavanserai, Khan, Funduq, Wikala pada masanya telah menjadi meeting point bagi orang dari berbagai suku bangsa, ras, dan agama. Keempat macam penginapan di atas bisa diibaratkan dengan terminal bus modern hari ini.

Para pengguna bisa mendapatkan tempat untuk istirahat dan tidur, restoran untuk makan, toko untuk berbelanja, teman untuk bergaul sebelum melakukan perjalanan selanjutnya.