Pentingnya mengkonfirmasikan pemahaman

Filsafat Komiruddin
Komiruddin
Pentingnya mengkonfirmasikan pemahaman
Pentingnya mengkonfirmasikan pemahaman © motortion | Dreamstime.com

Belajar untuk menambah ilmu adalah keharusan. Karena dengannya seseorang dapat maju dan berkembang. Banyak cara untuk mendapatkan ilmu, terlebih lagi di zaman multi media saat ini.

Pentingnya mengkonfirmasikan pemahaman

Untuk mengetahui suatu hukum dalam Islam atau ada kesulitan dalam mencari resep masakan tertentu, cukup dengan mencarinya di mesin pencarian kata. Maka akan terpampang banyak pilihan dan jawaban.

Namun walau demikian, berguru itu wajib. Supaya pemahaman yang dipahami dari membaca dan referensi yang dijadikan rujukan dapat terkonfirmasi kebenarannya.

Ketika kita membaca suatu hadis atau ayat Al-Quran, bisa jadi kita langsung bisa memahami makna yang dikandung. Tapi alangkah bagusnya kalau pemahaman kita itu kita konfirmasikan kepada rujukan yang diakui dan guru yang berkompenten dalam hal itu.

Perhatikan riwayat di bawah ini, bagaimana pentingnya kita mengkonfirmasi pemahaman kita walau nash atau teksnya jelas. Imam Ahmad meriwayatkan, dari asy-Sya’abi, dari Adi bin Hatim katanya:

“Ketika ayat:  ‘dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.’ (Quran surat Al-Baqarah ayat 187) turun, aku sengaja mengambil dua utas tali. Satu berwarna putih dan satu lagi berwarna hitam, lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Setelah itu aku melihat keduanya, dan ketika sudah tampak jelas olehku  antara tali yang putih dari yang hitam, maka aku langsung menahan diri (tidak makan, minum dan berjima’). Keesokan harinya aku pergi menemui Rasulullah dan kuberitahukan kepada beliau apa yang telah aku lakukan itu.” Maka beliau pun bersabda, “Kalau demikian tentulah bantalmu itu sangat lebar. Sebenarnya yang dimaksud ayat itu adalah terangnya siang dari gelapnya malam.”

(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Tradisi para sahabat selalu mengkonfirmasikan pemahaman 

Begitulah tradisi para sahabat selalu mengkonfirmasikan pemahaman mereka, khususnya dalam masalah ijtihadiah dan yang masih ada keraguan padanya.

Syeikh Jum’ah Amin dalam kitabnya Qawa’id Dakwah menyebutkan salah satu qaidah dakwah, ‘Tilmidz ustadz laa tilmidz kitaab’ atau ‘Murid seorang guru, bukan murid sebuah kitab’.

Artinya, belajar tidak cukup hanya dengan mambaca kitab saja, tapi tetap harus berguru. Termasuk di sini adalah bacaan-bacaan kita terhadap kondisi yang melingkupi, baik global atau regional atau lokal.

Kita perlu mengkonfirmasi pemahaman kita terhadap apa yang kita baca dengan para pemikir dan ahli di bidangnya. Hal ini kita lakukan agar ketika kita menetapkan suatu kebijakan, kita sudah melihatnya dari berbagai sisi, tentang dampak dan akibatnya.

Bahkan apakah kebijakan itu bisa diterapkan, dengan melihat daya dukung yang ada. Nah, di sinilah, pentingnya selalu belajar. Belajar dengan guru, belajar dengan pakar dan belajar dengan yang berpengalaman.

Dengan belajar seperti itu, banyak energi yang bisa dihemat dan sumber daya yang bisa diirit sehingga ke depan jalan terbentang untuk mencapai apa yang dicita-citakan.