Penyair Hafiz Ibrahim dan puisi dari Mesir

Dunia Muhammad Walidin 18-Sep-2020
431px-Hafez_Ibrahim
Hafiz Ibrahim By Public Domain, Link

Saat itu di penghujung abad ke-18, Mesir tengah menyambut  kedatangan Napoleon Bonaparte dengan modernitas yang dibawanya. Sekumpulan budayawan, intelektual, insinyur, peneliti, dan seniman datang ke Mesir bersama dengan tentara Perancis. Mesir menjadi terpukau dengan cahaya Perancis setelah sekian lama dalam kegelapan di bawah pemerintahan Turki Usmani.

Kedatangan Perancis ke Mesir (1797 Masehi) membuat gusar Turki Usmani. Turki Usmani, bersama Mamalik dan Inggris berhasil mengusir Perancis dari bumi Mesir. Inggris menginginkan peran yang lebih besar di Mesir. Namun sayang, Inggris juga terusir dari Mesir (1807 M) setelah kemenangan diplomasi pemimpin Mesir;  Muhammad Ali Basya (berkuasa 1805-1848 M).

Salah satu penyair militer yang terusik dengan adanya pihak asing di Mesir ini adalah Hafiz Ibrahim (1872-1932 Masehi). Pertama, Hafiz bersentuhan dengan modernitas yang dibawa Perancis dalam bidang sastra.

Melanjutkan resistensi Mahmud Sami al-Barudi (1839-1904 Masehi) terhadap romantisme Barat, Hafiz, Ahmad Syauqi, Aly al-Jarim membentuk aliran Neo Klasik untuk memertahankan genuitas sastra Arab. Mereka menginginkan puisi Arab tetap seindah puisi Abbasiyah dalam hal rima dan ritme. Hanya saja, tema-tema puisi diperbaharui berkaitan dengan isu-isu politik dan sosial.

Kedua, Hafiz Ibrahim bersentuhan dengan Turki Usmani dan Inggris yang ingin menguasai Mesir. Baginya, Mesir harus berdiri sendiri karena merupakan warisan unik dari sebuah peradaban. Saat bertugas di Sudan, ia menyerukan perlawanan terhadap penjajah Inggris dan membawa isu nasionalisme. Akibatnya, Ia diberhentikan dari militer atas keterlibatan agitasi tersebut.

Berhenti dari militer membuat ia semakin aktif menulis. Pada tahun 1901, karya pertamanya terbit. Setelah itu, ia terus menerus menulis puisi-puisi nasionalis dan mengecam kolonialisme Barat. Ia memiliki ketrampilan yang luar biasa dalam membacakan puisi. Komposisi talenta kepenyairan dan kepeduliannya terhadap berbagai masalah bangsa menghantarkan ia ke dalam banyak gelar.

Ia dijuluki sebagai penyair rakyat atas komitmen politiknya terhadap raykat miskin. Puisinya merupakan gambaran realtias sosial yang terjadi pada masyarakat Mesir. Atas skillnya ini, ia mendapatkan tempat yang istimewa di hati rakyat.

Kedua ia digelari sebagai penyair pedang dan pena. Gelar ini tak lain karena ia berjuang untuk Mesir dengan media pena sebagai representasi dari pedang untuk mengusir penjajah. Dan akhirnya, atas segala jasanya dalam mengangkat isu-isu nasionaisme bangsa Mesir, ia diberi gelar penyair sungai Nil.

Kehidupannya sebagai penyair telah membawanya kepada amanah sebagai Direktur Sastra (1911-1931 Masehi) di Perpustakaan Nasional Kairo. Sembari berkarya menulis puisi yang terkumpul dalam antologi Diwan Hafiz Ibrahim, ia juga menerjemahkan karya sastra besar sastrawan Perancis; Victor Hugo yang berjudul Les Miserables ke dalam bahasa Arab (1903 M).

Ia juga menerjemahkan Hamlet karya Shakespeare, Ia mengkritik tajam rezim kolonial Inggris di Mesir. Ia juga melanjutkan tradisi genre prosa Maqama dalam sastra Arab Modern.