Penyair Islam – penyair berhidayah gelombang pertama

Budaya Muhammad Walidin
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Kaligrafi berisi awal puisi karya Ka'ab bin Zuhair - dari puisi Baanat Su’ad
Kaligrafi berisi awal puisi karya Ka'ab bin Zuhair - dari puisi Baanat Su’ad © Unknown, Public Domain, Link

Bangsa Arab adalah bangsa yang gandrung kepada syair. Penyair pertama yang tercatat adalah ‘Adi bin Rabi’ah (491-531 Masehi) atau masyhur dengan nama Muhalhil. Dianggap sebagai penyair pertama karena hanya syairnyalah yang masih terlacak. Karyanya masih terlacak dalam bentuk 30 bait syair.

Penyair berikutnya yang terkenal adalah  Imru al-Qais (lahir 501 Masehi),  Nabihagh al-Zubyani  (535- 604 M),  Zuhari bin Abi Salma (520-609 M), dan Antarah al-Absi (525-608 M). 

Penyair Islam gelombang pertama

Bila dilihat dari tahun kematian, para penyair di atas wafat sebelum bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang diutus tahun 611 Masehi. berlainan dengan A’sya Qais (wafat 628 Masehi) yang sempat akan ber-Islam ke Madinah, tetapi terhalang oleh godaan kafir Quraisy hingga mati dalam keadaan tidak beriman.

Di antara penyair-penyair itu, ada beberapa yang beruntung tersiram hidayah. Secara sadar mereka menerima Islam dan menjadi barisan pembela Rasulullah SAW. Mereka disebut dalam sejarah sebagai penyair Muhkadramain atau penyair dua masa; Jahiliyah dan Islam.

Betapa beruntungnya penyair-penyair ini. Mereka sempat bertemu dengan Islam setelah melampaui separuh hidup pada masa jahiliyah. Keberadaan mereka memberikan warna tersendiri dalam dakwah Islam bersama Rasulullah SAW. Daftar penyair berhidayah ini adalah:

1. Labid bin Robi’ah r.a (560-661 Masehi)

Sastrawan ulung Jahiliyah ini adalah salah satu dari tujuh sastrawan yang puisinya mendapat penghormatan digantung di dinding Ka’bah (al-Mu’allaqat). Namun setelah masuk Islam, Labid bin Robi’ah r.a tidak menciptakan syair melainkan hanya satu bait saja.

Ia sibuk mempelajari Islam dan menghafal al-Quran. Labid tumbuh di Nejd (Arabia Tengah), masuk Islam pada tahun ke 9 Hijriyah, dan tinggal di Kufah.

2. Hassan bin Tsabit r.a (563-674 Masehi)

Ia memiliki nama lengkap Hassan bin Thabit bin al-Mundhir al-Hazraji al-Anṣari r.a. Nama panggilannya Abdul Walid. Penyair ini  berasal dari suku Khazraj kabilah Khataniah di Madinah.

Di kalangan para sahabat ia digelari Sang Penyair Rasul. Ia masuk Islam pada tahun 623 Masehi, saat usianya menginjak 60 tahun. Ia hidup hingga berumur 111 tahun. Hassan meninggal pada tahun 54/674 di Madinah pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan.

3. Abdullah bin Rawwahah r.a (wafat 629 Masehi)

Abdullah bin Rawwahah r.a sengaja datang ke Mekkah bersama 12 orang temannya untuk masuk Islam. Peristiwa ini dinamakan Bai’at Aqabah Pertama (621 Masehi). Setahun kemudian, ia datang lagi bersama 72 orang Yastrib untuk melakukan Bai’at Aqabah kedua.

Saat Rasulullah SAW bersama Muhajirin pindah ke Yastrib, Abdullahlah yang melayani Rasul. Ia adalah pembela Rasul dan penghibur Rasul dengan syair-syairnya. Ia meninggal pada perang Mu’tah di Jordania pada tahun 629 Masehi.

4. Bujair bin Zuhair r.a

Bujair bin Zuhair r.a adalah putra dari penyair terkenal Zuhair bin Abi Sulma. Tidak banyak literatur yang mengulas masa hidup penyair ini. Tetapi diketahui ia telah masuk Islam lebih dahulu sebelum saudaranya Ka’ab bin Zuhair.

Mereka berdua pernah akan menghadap Rasulullah SAW. Ketika sampai ke Abraq di Irak, Bujair terus ingin bertemu Rasul, sementara Ka’ab urung. Ia tercatat berada bersama Rasulullah saat Fathu Makkah (Pembebasan Makkah).

5. Ka’ab bin Zuhair r.a (wafat 662 Masehi)

Ka’ab bin Zuhair r.a merupakan saudara dari Bujair, penyair ini diketahui masuk Islam setelah menerima surat dari Bujair agar ia segera minta maaf kepada Rasulullah SAW atas puisinya yang menghina Nabi. Pasca Fathu Makkah (630 Masehi), Ka’ab akhirnya berangkat ke Madinah dan meminta maaf pada Nabi.

Ia melantunkan sebuah puisi yang terkenal Baanat Su’ad. Salah satu dari 54 bait puisinya itu membuat Nabi memberinya burdah (jubah) yang sangat legendaris.

6. Al-Abbas bin Mirdas r.a  (wafat 639 Masehi)

Al-Abbas bin Mirdas r.a memeluk Islam sebelum peristiwa Fathu Makkah. Ibunya adalah Al-Khansa; penyair Jahiliyah. Sebagai orang Badui, ia hidup di gurun Basrah.

Semasa Jahiliyah ia memang suka mencela khamar dalam puisinya. Ia meninggal pada masa Umar bin al-Khattab.