Penyesalan yang tak berujung

Masyarakat 05 Jan 2021 Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Penyesalan yang tak berujung
Penyesalan yang tak berujung © Odua | Dreamstime.com

‘Penyesalan yang tak berujung’ – ungkapan-ungkapan di bawah seperti ini sering kita dengar:

“Sebenarnya sudah saya larang… andai ia menuruti kata saya, enggak akan terjadi peristiwa yang menyedihkan ini.”

“Andai saya belajar dengan tekun, tentu nilai saya tidak akan serendah ini.”

“Ah terlambat, andai kemaren saya berangkat pasti bisa bertemu.”

Ungkapan yang menunjukan penyesalan atas akibat dari perbuatan yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan di masa lalu. Ya, penyesalan selalu terakhir, tidak pernah di awal waktu.

Penyesalan yang tak berujung

Seuntai kata hikmah berujar:

 “Berfikirlah sebelum berbuat..”

Artinya sebelum kita mengerjakan sesuatu dan melangkah lebih jauh hendaknya kita memikirkan akibat apa yang kita dapat dari pekerjaan itu. Apakah keberuntungan atau kerugian.

Bahkan kita harus menyiapkan alternatif-alternatif cara exit jika apa yang kita usahakan mengalami kegagalan. Ini untuk mengantisipasi penyesalan bila apa yang kita lakukan mendapatkan kegagalan.

Penyesalan atas kegagalan dalam urusan dunia dan masih di dunia sangatlah ringan. Seperti kegagalan dalam bisnis, berkeluarga, studi, bercocok tanam dan lain sebagainya. Sebab masih bisa dievaluasi dan bangkit kembali.

Lain halnya kegagalan di akhirat, tentu sangatlah menyakitkan. Penyesalan di sini tak lagi berguna, sebab harapan telah pupus. Mereka yang menyesal akan berandai-andai, walau mereka tahu bahwa berandai andai tidaklah akan memberikan manfaat.

Itulah sebabnya Allah SWT mengungkapkan pengharapan mereka dengan kata ‘Laita’ sebagai isyarat bahwa apa yang mereka inginkan itu tidak akan mungkin dilakukan. Laita adalah sebuah kata yang menunjukan atas pengharapan yang mustahil didapatkan. Seperti ungkapan seorang penyair yang sudah tua dan beruban:

“Duhai alangkan indahnya jika masa muda kembali walau sehari….”

Itulah penyesalan penduduk neraka yang tiada ujungnya. Allah SWT ungkapkan di beberapa ayatnya. Mereka menyesal mengapa dulu tidak mentaati Allah dan mengikuti rasulullah saw.

 “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.”

(Surah al-Furqan, 25 ayat 27)

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.”

(Surah al-Ahzaab, 33:66)

Berfikir sebelum bertindak adalah suatu keharusan

Mereka menyesal mengapa menjadikan si pulan sebagai teman karib padahal ia menyesatkan.

 “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku).”

(Surah al-Furqan, 25 ayat 28)

Mereka menyesal mengapa dulu di dunia mendustakan ayat-ayat Allah SWT dan para Rasul.

 “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman” (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).”

(Surah al-An’aam, 6:27)

Mereka menyesal mengapa dulu di dunia yang diikuti adalah setan, padahal ia adalah musuh yang nyata.

 “Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada kami (di hari kiamat) dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).”

(Surah az-Zukhruf, 43:38)

Mereka menyesal mengapa dulu di dunia tidak mempersiapkan diri dengan amalan amalan yang baik.

“Dia mengatakan: Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”

(Surah al-Fajr, 89:24)

Mereka menyesal sehingga berandai ingin mati saja atau menjadi debu.

“Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.”

(Surah al-Haaqqa, 69:27)

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.”

(Surah an-Naba, 78:40)

Jadi, berfikir sebelum bertindak adalah suatu keharusan bagi setiap muslim agar ia terhindar dari penyesalan. Tolak ukurannya adalah akhirat. Apakah aktivitas ini akan memperberat timbangan kebaikan saya di akhirat, atau justru menjerumuskan saya ke jurang neraka yang paling dalam.