Peran ayah dalam mendidik anak

Peran ayah dalam mendidik anak © Odua | Dreamstime.com

Dalam Islam tugas ayah sangatlah penting, ia tidak hanya menjadi seorang imam dalam salat tetapi lebih luasnya sebagai imam dalam keluarga. Imam dalam hal mendidik keluarga mulai dari urusan akhlak, pikiran maupun dalam menentukan sikap. Jadi baik buruk keluarga terutama anak adalah tugas utama ayah dalam mendidik. Lalu ibu melengkapi dalam memulai hal-hal kecil hingga besar. Oleh sebab itu ayah memiliki tanggung jawab besar terhadap anak.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Hafizallah menjelaskan bahwa seorang ayah adalah penanggung jawab terbesar dalam rumah tangga berkewajiban mendidik keluarga serta anak-anaknya dalam mentaati Allah SWT. Ia berkewajiban menumbuhkan kembangkan semua anggota keluarga atas dasar asas ketaatan kepada Allah.

Juga senantiasa mengiringinya dalam doa, sebab diantara doa-doa yang dilantunkan oleh para Nabi ada doa-doa khusus untuk kebaikan keluarga dan anak-anaknya. (Taujihaaat Al Muhimmah Li Syababil Ummah, hal 15-16)

Al-Quran menyebutkan kisah para ayah bersama anaknya yang menjadi pelajaran dalam mendidik anak bagi umat Islam saat ini. Jelas sekali kisah tentang Nabi Nuh a.s, Nabi Ya’qub a.s, Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Muhammad SAW. Artinya kisah mendidik anak bukan hanya terjadi pada kita saja tetapi sudah ada pada masa Rasul.

Bisa dilihat bagaimana ketegaran seorang ayah, Nabi Ibrahim a.s ketika Allah SWT memerintah untuk menyembelih anaknya Ismail a.s sedang ia sangat menginginkan anaknya. Tetapi ia berusaha mengajarkan kepada Ismail untuk bersabar dan taat kepada Allah.

Tentunya ini bukan suatu kebetulan yang tidak ada faedah, melainkan sebagai pembelajaran untuk umat Islam bahwa peran ayah dalam mendidik anak sangat besar, bisa diibaratkan bahwa ayah adalah kepala sekolah dalam rumah tangga sementara ibu adalah gurunya. Ayah memberikan konsep kurikulum yang baik untuk anaknya, sedangkan ibu menjadi pelaksana dalam hal ini. Ayah dan ibu tidak boleh hanya mengandalkan satu saja, tetapi saling bekerjasama.

Rasulullah SAW adalah sosok ayah teladan dalam mendidik anak-anaknya, suami terbaik bagi istri-istrinya dan kakek terbaik bagi cucu-cucunya. Dalam Shahihain dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah pernah salat sambil membawa Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Zainab r.a adalah istri dari Abul Ash bin Ar Rabi. Bila berdiri, Baginda menggendongnya, sedangkan bila sujud Baginda meletakkannya.

Hal itu dilakukan Baginda Rasulullah SAW  ketika salat wajib. Melihat pada hadis tersebut bahwa Rasulullah berusaha sabar ketika mengajarkan bagaimana tetap menyayangi anaknya meski dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT. Mendidik anak tidak hanya dengan urusan akademik tetapi juga bagaimana anak menjadi berkarakter dan berakhlak mulia.

Anak saat usia masih kecil belum mengerti bagaimana melakukan hal-hal baik maupun salah. Maka ia akan menjadi peniru ulung dari orang tuanya, terkhusus ayahnya. Oleh karena itu, penting sekali bagi ayah untuk menjadi contoh yang baik bagi anaknya dimulai daari menjaga lisan yang baik, menjaga tingkah laku agar tetap mengajarkan kebaikan kepada anak.

Rasulullah SAW juga sosok kakek yang baik bagi cucu-cucunya. Beliau tidak hanya serius dalam materi akademik tetapi juga dalam psikologis anak. Dalam riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah mencium Hasan bin Ali dan di sisi beliau ada Al- Aqra’ bin Haris. Al-Aqra pun berkata: “Saya memiliki sepuluh anak namun saya tidak pernah mencium seorangpun dari mereka.” Rasulullah memperhatikan dirinya lalu bersabda: “siapa yang tidak menyayangi niscaya tidak disayangi.”

Riwayat lain juga menambahkan bahwa Rasulullah SAW pernah mencandai Hasan r.a dan Husain r.a. Beliau bergurau dan duduk bersama mereka berdua. Beliau menggendong mereka berdua di punggung. Beliau juga pernah menjulurkan lidah ke Husain, dan apabila Husain melihat, ia pun tertawa.

Meninjau pada hadis tersebut bahwa sosok ayah sangatlah penting, dia bukan hanya menjadi perhatian bagi anaknya tetapi juga bagi cucu-cucunya. Maka penting sekali untuk bertingkah laku bertindak dan memberikan contoh yang baik. Jika kita menginginkan anak yang cerdas maka dimulai dari memberikan waktu khusus untuk anak kita, jika kita menginginkan anak yang menjaga Al-Quran da menjadi Hafiz maka mulailah diajak mendekatkan diri pada pengajian.

Anak adalah cerminan sosok ayah, keberhasilan seorang anak dimulai dari ayah, baik dari bayi berusia dua atau tiga bulan peta ayah tetap diperlukan. Maka dari itu, hendaknya kita mulai memperhatikan apa yang sudah kita perbuat pada anak, jika hal tersebut salah maka mulailah memperbaiki diri.