Peran mulia Sunan Ampel dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa

Asia Asna Marsono
Asna Marsono
Peran mulia Sunan Ampel dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa
Peran mulia Sunan Ampel dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa © beautifulmosque.com

Kisah mengatakan Sunan Ampel lahir di tahun 1401 di Champa. Beliau merupakan anak dari Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik dengan putri Champa Dewi Candrawulan.

Beliau memilik nama asli Muhammad Ali Rahmatullah dan biasa dikenal juga dengan Raden Rahmad.

Peran mulia Sunan Ampel dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa

Raden adalah sebutan bagi Pangeran. Hal ini disebabkan karena Sunan ampel memiliki garis keturunan kerajaan. Ibunya, Dewi Candrawulan, merupakan putri dari Kerajaan Champa dan tak lain adalah saudara dari salah satu permaisuri Kerajaan Majapahit, Putri Darawati.

Sekitar tahun 1440 Masehi, Sunan Ampel Bersama Ali Murtadho dan Raden Burereh datang menuju pulau Jawa dan menetap di daerah yang sekarang adalah Tuban, Jawa Timur.

Beliau dikenal atas strategi dakwahnya menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Mulai dari prinsip ‘Moh Limo’, dakwah lewat Pondok Pesantren, hingga dakwah dengan membangun Masjid Agung Demak.

Strategi beliau adalah diantara hal yang paling berjasa dalam dakwah menyebarkan agama Islam. Mari kita simak satu persatu strategi dakwah beliau yang menakjubkan ini.

Prinsip hidup ‘Moh Limo’

‘Moh Limo’ memiliki arti Menolak Lima Hal dalam Bahasa Indonesia. Lima hal ini merupakan perbuatan tercela yang hukumnya dilarang dalam agama Islam. Isi dari lima prinsip tersebut adalah:

  1. Moh Main berarti ‘menolak berjudi’
  2. Moh Ngombe berarti ‘menolak untuk minum miras’
  3. Moh Madat berarti ‘menolak menghisap candu’
  4. Moh Maling berarti ‘menolak untuk mencuri’
  5. Moh Madon berarti ‘menolak untuk melakukan perbuatan zina’

Lima hal ini terbukti ampuh dalam menanamkan prinsip-prinsip Islami dalam kehidupan masyarakat yang berlatar belakang Hindu Buddha pada zaman tersebut. Bahkan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit memuji gerakan yang diterapkan Sunan Ampel, atas respon dari kemerosotan moral di lingkungan kerajaan.

Dakwah melalui Pondok Pesantren

Sebagai ucapan terima kasih, Prabu Brawijaya V menikahkan putrinya Nyai Ageng Manila dengan Sunan Ampel dan memberikan hadiah kepada Sunan Ampel sepetak tanah rawa di daerah yang kemudian disebut Kawasan Ampel Denta. Lokasi ini terletak dekat dengan Pelabuhan Ujung Galuh. Karena lokasi yang strategis ini, daerah Ampel Denta juga menjadi tempat persinggahan pedagang timur tengah, Hadramaut dan Hadhami.

Bersama dengan kerabat dan pengikutnya, Sunan Ampel kemudian membangun sebuah Pondok Pesantren diatas lahan kosong ini. Pondok pesantren ini bernama Pondok Pesantren Ampel Denta.

Melalui pondok pesantren ini beliau mengajarkan ajaran agama dan berhasil mencetak tokoh-tokoh dan wali-wali yang kemudian berperan besar dalam pengembangan agama Islam. Beberapa diantaranya adalah Raden Patah, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan Sunan Giri.

Membangun Masjid Agung Demak

Telah dipercayai bahwa Sunan Ampel lah yang pertama kali meletakkan fondasi kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yaitu Kasultanan Demak, yang akan berkembang menjadi kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa.

Beliau berperan dalam membantu pembangunan Masjid Agung Demak, Bersama rekan dan murid beliau.

Raden Fatah yang merupakan salah satu murid beliau diangkat menjadi raja pertama dari Kasultanan Demak pada tahun 1475.

Dari kisah ini dapat dikatakan bahwa Sunan Ampel adalah wali pertama yang benar-benar memiliki pengaruh besar dalam mengislamisasi masyarakat Jawa.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.