Perang dan peristiwa yang terjadi pada bulan Safar

dreamstime_s_50732811
Perang dan peristiwa yang terjadi pada bulan Safar © Vertyr | Dreamstime.com

Umat Muslim memiliki bulan-bulan Hijriyah sebagai hitungan pada bulan Islam. Hal ini bukan suatu kebetulan melainkan untuk mengetahui peristiwa-peristiwa penting dalam Islam yang merupakan suatu pembelajaran bagi umat selanjutnya. Saat ini kita memasuki minggu pertama bulan Safar, perhitungan bulan Safar dimulai pada tanggal 19 september 2020.

Safar berasal dari kata bahasa Arab yang bermakna ‘Kosong’, artinya berkenaan dengan situasi pada saat itu bahwa para muslimin sedang mengosongkan rumahnya untuk pergi berperang. Dalam Lisanul Arab Ibnu Mandzur, dikatakan bahwa Safar karena dahulu suatu kabilah diperangi dan ditinggalkan tanpa memiliki barang apapun (dijarah). Oleh karena itu peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan Safar juga lebih banyak tentang perang.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, berikut ini peristiwa-peristiwa penting pada bulan Safar. Pertama, perang bi’r Ma’unah (peristiwa Sumur Maunah). Ketika itu Abu Barra’ Amir bin Malik mendatangi Rasulullah SAW kemudian Baginda mengajaknya untuk masuk Islam tetapi dia belum bersedia.

Hingga iapun menyarankan kepada Rasulullah SAW untuk mengirim utusan kepada penduduk Najd. Meski khawatir, Baginda mengutus kurang lebih 40 orang untuk berdakwah tetapi yang terjadi sesampai di Bi’ir Maunah yakni tempat antara Bani Amir dan Desa Bani Salim.

Mereka singgah di sana kemudian mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah SAW kepada Amir bin Tufail. Sayangnya, surat tersebut tidak dibaca melainkan utusan tersebut langsung ditombak. Saat itu pula terjadi penyerangan terhadap utusan Baginda.

Kedua, Peristiwa Mata Air Roji’. Pada bulan Safar tepatnya tahun ke empat Hijriah, beberapa orang dari Adhal dan Qarah datang kepada Rasulullah SAW mengabarkan bahwa di tengah kaumnya ada beberapa orang Muslim. Mereka meminta dikirim beberapa orang yang bisa mengajarkan Islam, akhirnya Baginda mengutus sepuluh orang yang dipimpin langsung oleh Ashim bin Tsabit.

Seketika di pangkalan al-Raji’ yaitu tempat muaranya air milik Bani Hudzail, para utusan yang berniat menipu utusan kaum Muslimin dengan menyerbu ratusan anak panah kepada mereka. Namun, para utusan menyadari bahaya tersebut sehingga berusaha menyelamatkan diri dengan mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Pada akhirnya terjadilah perang dan mereka berhasil membunuh pembesar Quraisy.

Ketiga, Perang Khaibar yang terjadi pada bulan Safar dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW dengan memerangi umat Yahudi yang hidup di Madinah. Perang inilah terjadi di sekitar Oasis Khaibar, 150 km dari Madinah.

Keempat Perang al-Abwa, peristiwa perang al-Abwa ini terjadi pada tahun ke 12 Hijriah yang disebut pula dengan Perang Waddaan. Panglima perang saat itu adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dialah seorang singa Allah SWT yang berani dalam membela Islam. Perang ini dilakukan untuk menyergap kafilah Quraisy. Pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Makhsyi bin Amr adh-Dhamari, yang merupakan pemimpin Bani Dhamrah untuk tidak saling berperang dan tidak membantu lawan.

Kelima, wafatnya pembebas Baitul Maqdis ialah Sholahudin al-Ayubi. Tepat pada bulan Safar tahun 859 Hijriah, wafatlah beliau dengan hanya memiliki kain kafan dan uang sejumlah 66 dirham nasirian. Di akhir hayatnya beliau menyampaikan, “Jangan tumpahkan darah, sebab darah yang terpecik tak akan pernah tidur”.