Perang Mu’tah dan Tabuk: kontak Rasulullah SAW dengan Romawi

Sejarah Muhammad Walidin
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Perang Mu'tah dan Tabuk: kontak Rasulullah SAW dengan Romawi
Perang Mu'tah dan Tabuk: kontak Rasulullah SAW dengan Romawi © Felix Friebe | Dreamstime.com

Saat Islam berkembang sebagai kekuatan baru, maka kekuatan yang telah mapan sebelumnya seperti Romawi dan Persia merasa terancam. Apalagi Rasulullah SAW aktif berdakwah kepada raja-raja sekitar, seperti Raja Najasyi dari Habasyah (Etiopia), Muqauqis Raja Mesir, Ja’far Raja Oman.

Ketiga raja ini menjawab dakwah Rasulullah SAW dan masuk Islam. Sementara Kisra Raja Persia  menolak, dan Heraclius Raja Romawi mengakui kerasulan Nabi Muhammad namun ia lebih menyayangi mahkotanya.

Perang Mu’tah dan Tabuk: kontak Rasulullah SAW dengan Romawi

Surat-surat Rasulullah SAW juga sampai ke Raja Bushrah, namun sang pengantar Harist bin Umair dibunuh saat sampai di Mu’tah (Timur Yordania). Membunuh duta saat itu dan hingga kini adalah bentuk pelanggaran internasional. Dengan sebab ini, Rasulullah mengirimkan armada perang pada bulan Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriyah.

Ia menugasi Zaid bin Haritsah untuk memimpin pasukan yang berjumlah 3000 orang itu. Namun, ia juga berpesan: “Jika Zaid mati syahid, maka Ja’far bin Abi Thalib yang menggantikannya. jika Ja’far mati syahid, maka Abdullah bin Rawahah penggantinya.”

Tiga pemimpin telah diangkat dalam satu waktu sebelum perang. Hal ini menandakan kesiagaan Nabi karena baru pertama kali ini pasukan muslim berhadapan dengan Imperium Romawi yang militernya merupakan terbesar saat itu.

Heraclius menyiapkan 100.000 pasukan Romawi ditambah 100.000 pasukan lagi dari kabilah-kabilah Arab yang beragama Nasrani. 200.000 melawan 3000 bukanlah perbadingan yang adil. Namun 3000 pasukan Islam hanya syahid sebanyak 12 orang dan memenangkan pertempuran tersebut di bawah siasat Khalid bin Walid.

Pada perang ini, Rasulullah SAW tidak bergabung. Namun ia mengetahui di suatu tempat di Madinah bahwa ketiga pemimpin perang telah syahid. Seraya matanya berkaca-kaca namun tersenyum, ia menyaksikan ketiga pemimpin perang tadi diangkat oleh malaikat menuju surganya.

Lain lagi dengan Perang Tabuk melawan Romawi, Rasulullah SAW memimpin langsung perang ini. Inilah perang yang menguji iman. Orang-orang munafiq enggan berangkat karena saat itu musim panas luar biasa dan sebentar lagi akan tiba musim panen kurma.

Peperangan tidak jadi berlangsung, Romawi tidak muncul

Waktu yang baik untuk beristirahat di rumah. Namun bagi orang mukmin, ini saat yang tepat untuk menunjukkan kadar iman. Tak kurang Sayidina Abu Bakar r.a menyumbangkan seluruh hartanya, Sayidina Umar r.a mendonasikan separuh hartanya, Sayidina Usman r.a membeli semua perlengkapan perang. Juga sahabat lain menyumbang semampu mereka.

Sejumlah 30.000 pasukan kaum muslimin menembus perjalanan selama 15 hari menuju Tabuk di perbatasan Jazirah dan Syam. Pasukan ini adalah yang terbesar dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Mereka akan menghadapi 40.000 pasukan Romawi di bawah pimpinan Heraclius. Anehnya, peperangan ini tidak jadi berlangsung karena pasukan Romawi tidak muncul di medan laga. Mereka bersembunyi di wilayah Syam karena gentar menghadapi kaum muslimin.

Awalnya mereka pesimis kaum muslimin bisa menembus perjalanan yang lama di musim panas. Namun melihat kaum muslimin berhasil menembus gurun di musim panas, mereka jadi gentar dan takut untuk berperang. Apalagi mengingat pada peperangan Mu’tah mereka dikacaubalaukan oleh pasukan muslim yang berjumlah sangat kecil.

Selama 20 hari Rasulullah SAW menunggu kedatangan pasukan Romawi di Tabuk. Selama menunggu, Baginda aktif menemui pemimpin di wilayah utara tersebut, seperti penguasa Ailah yang menawarkan perdamaian dan jizyah.

Demikian pula dengan  Jarbah dan Adzrah. Dengan batalnya peperangan ini, Rasulullah SAW kembali ke Madinah dan menembus perjalanan pulang selama 15 hari lagi. Keberadaan Rasulullah di Tabuk ini menjadi pintu terbukanya Islam di wilayah Syam pada waktu-waktu mendatang.