Pergantian siang dan malam tanda kebesaran Allah SWT

Kehidupan Komiruddin 02-Sep-2020
dreamstime_s_60703766
Pergantian siang dan malam © Oleg Kalina | Dreamstime.com

Pergantian siang dan malam adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang berakal.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Surah al-i-Imran, ayat 190)

Dan Allah SWT jadikan pergantian siang dan malam, agar kita bisa mengingat atau mengambil pelajaran lalu bersyukur. Mengingat atau mengambil pelajaran artinya kita menyiapkan waktu untuk introspeksi diri terhadap amal yang dilakukan hari ini.

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Surah al-Furqan, ayat 62)

Yang pertama dan utama, Introspeksi terhadap amalan wajib kita, seperti salat. Sudahkah kita melaksanakannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Atau kita kerjakan dengan terburu buru dan pikiran melayang tanpa ruh. Sebab hanya sekedar melepaskan kewajiban.

Padahal seharusnya kita menganggap salat itu adalah kebutuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban. Persis seperti kita membutuhkan makan, minum dan udara untuk keberlangsungan hidup.

Sudahkah kita menambahnya dengan salat-salat sunah, seperti: salat Malam, Witir, Duha, Rawatib dan lainya. Atau kita hanya mencukupkan diri dengan mengerjakan yang lima waktu itu saja. Padahal kita tahu bahwa salat-salat sunah itu berguna untuk menambal kekurangan-kekurangan yang ada pada salat wajib kita.

Sudahkah kita membiasakan zikir dengan membaca istighfar minimal 100 kali sehari, membaca tasbih, ‘Subhanallah, Subhanallahi wabi hamdihi subhanallahil azhim’. Atau ‘Subhanallahi walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar’, masing masing seratus kali.

Atau salawat kepada Nabi Muhammad SAW minimal 50 kali, atau membaca beberapa halaman al-Quran. Atau hari hari kita penuh dengan canda dan tawa, pekerjaan yang sia-sia bahkan dosa, jauh dari mengingat Allah SWT.

Sudahkah kita bersedekah, baik dengan harta, jasa, nasihat, menciptakan kesenangan atau paling tidak, tidak mengganggu sesama.Sudahkah kita memberikan hak terhadap pekerjaan dan penghidupan kita. Yaitu kita bekerja dengan tekun dan profesional. Atau pekerjaan kita asal ditunaikan, dan setelah itu kita mendapat gajih dan upah.

Bila kita sudah mengingat-ngingat lalu kita temukan kekurangan, maka mohon ampunlah kepada Allah SWT dan bersyukurlah bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaikinya pada hari selanjutnya.

Kalaupun setelah itu Allah SWT ambil nyawa kita, minimal kita sudah berniat untuk memperbaikinya. Dan niat yang benar, sudah cukup bagi Allah, andai Dia ingin memaafkan kesalahan dan kelalaian kita.