Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Asia 04 Feb 2021 Kkartika Sustry
Kkartika Sustry
Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi
Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi © Public Domain

Belajar memahami sejarah sebagai bentuk cinta tanah air dan rasa nasionalis yang kental. Meskipun saat ini sudah merdeka, tetapi di balik semua ini ada jasa para pejuang yang tak bisa kita bayar.

Mereka berjuang untuk Indonesia yang menjadi tawanan dan penjajah Belanda dan Jepang hingga berdarah-darah.

Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Tidak heran jika nasib mereka mengenaskan karena dijajah. Ini termasuk peristiwa yang terjadi ketika itu memperjuangkan kemakmuran para pekerja laut yang disebut Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi atau De Zeven Provincien.

Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi ini disebabkan karena adanya kebijakan yang memberatkan bagi para pelaut. Yaitu isu penurunan gaji pegawai pemerintah Hindia Belanda hingga 17% yang diumumkan pada tanggal 1 Januari 1933, dan adanya diskriminasi terhadap pelaut pribumi.

Keputusan tersebut membuat resah para pekerja baik pegawai berkebangsaan Eropa, Indonesia maupun Eurasia yang ada di pemerintahan Hindia Belanda. Sehingga pemberontakan dan penolakan mulai terjadi pada tanggal 27 Januari 1933.

Hal ini terdengar hingga ke Kapal Tujuh Provinsi yang sedang berlabuh di Sabang, Aceh melalui pemberitaan di radio. Ia mengakibatkan para pekerja mogok kerja dimulai pada tanggal 30 Januari 1933 yang tersebar hingga ke pelaut yang di Surabaya.

Dampak dari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Tepat pada tanggal 4 Februari malam pukul 22.00, mulai terjadi pemberontakan di atas kapal laut. Sehingga mengakibatkan para pekerja pribumi ikut terlibat dengan adanya pengeboman dari pesawat milik Belanda.  Ia telah disiarkan pada tanggal 5 Februari 1933 melalui radio dengan tiga bahasa; Belanda, Inggris, dan Indonesia.

Berita yang disiarkan tersebut berisi tentang penolakan penurunan gaji kemudian tersebar hingga ke Eropa sehingga membuat Belanda banyak diserang berbagai pihak. Pemerintah Belanda makin meradang. Ia mengirimkan kapal penyebar ranjau untuk mengejar Kapal Tujuh Provinsi yang berlayar hingga ke Surabaya meskipun banyak korban luka-luka akibat pengeboman tersebut.

Sehingga tercatat 20 orang awak kapal Indonesia dan tiga awak Belanda yang tewas dan 545 yang terluka. Dampak dari peristiwa Kapal Tujuh Provinsi yaitu:

  1. Gubernur Jenderal De Jonge mendapat serangan dan pemberontakan atas kebijaksanaanya tersebut dari berbagai pihak, termasuk dari kelompok orang Eropa yang ada di Hindia Belanda.
  2. Sejumlah media massa saat itu terkena getahnya, diberedel (dihentikan penerbitan) dan pimpinan redaksinya ditahan
  3. Campur tangan pemerintah terhadap semua partai politik yang ada di Hindia Belanda semakin ketat
  4. Kaum Nasionalis menjadi kambing hitam terhadap terjadinya peristiwa pemberontakan tersebut, menyebabkan pemerintah Hindia Belanda lebih ketat lagi mengawasi kegiatan kaum nasionalis.