Perjalanan hidup – akhir yang menentukan

Islam 02 Mar 2021 Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Perjalanan hidup - akhir yang menentukan
Perjalanan hidup - akhir yang menentukan © Airdone | Dreamstime.com

Suatu ketika, dua orang pemuda melewati sebuah rumah sakit di Mesir, tiba-tiba sebuah mobil ambulance berhenti tepat searah dengan mereka. Dari dalam mobil, dikeluarkan seorang perempuan tua yang dalam kondisi sakaratul maut.

Kedua pemuda itu mendatangi dan kemudian menyapa sambil mengatakan, “Ibu…katakanlah..Laa ilaaha Illallah…Muhammadur Rasulullah!” Perempuan tua itu pun mengucapkan syahadatain sambil mengangkat telunjuk kanannya. Selang sesaat tak lama, perempuan tua itu menghembuskan nafas terakhir.

Perjalanan hidup – akhir yang menentukan

Dari kejauhan datanglah seorang laki-laki, tidak lain adalah anak kandungnya sambil tergopoh sedih menangis menyesa mendekatil jasad ibunya. Lalu kedua pemuda mendekati berusaha menenangkan.

Salah seorang pemuda berkata, “kami punya kabar gembira untuk mu”. Laki-laki itu pun bertanya sangat penasaran, “kabar apa?” Mulailah kedua pemuda tersebut menceritakan kejadian yang mereka alami dan telah lakukan terhadap ibunya.

Bukannya sambutan ucapan terima kasih yang mereka berdua dapatkan dari laki-laki tersebut, malah berganti keterkejutan berujung kemarahan. “Celakalah kalian berdua, kalian telah menjadikan ibuku kafir”. Rupanya ibu tua itu adalah seorang Qibty yang beragama Nasrani.

Kisah ini dinukilkan dalam majalah Al-Mujtama’. Lihatlah, bagaimana akhir dari seorang ibu tua melepas ajalnya dengan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Akhir penghujung dari seluruh kebaikan.

Kebaikan yang menghapus dosa-dosa lama sebelumnya. Kebaikan yang membuka pintu langit. Siapa sangka, akhir hidup perempuan tua yang ditangisi disesali oleh anaknya karena kekafiran diakhir hidupnya. Diberi taufiq peroleh hidayah di penghujung hayatnya. Saat-saat terakhir yang benar-benar menentukan langkah pasti lanjutan perjalanan hidupnya.

Perbaiki kehidupan dan perubahan kondisi diri 

Mari kita renungkan kebenaran sabda Rasulullah shallallahu alaihi Wa sallam akan taufiq dari Allah Ta’ala dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan at Tirmidzi:

“Apabila Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya, maka Dia akan memperkerjakannya”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah memperkerjakannya? ” Beliau menjawab, “Allah memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum kematiannya.”

Hidup di zaman ini begitu dinamis. Begitu cepat berubah. Tak terasa tapi berubah berganti terjadi. Keadaan dulu jauh berbeda dengan hari ini. Hari ini bisa jauh tertinggal dibanding masa akan datang.

Tentu, perubahan-perubahan itu berpengaruh terhadap keadaan kita. Pagi beriman, siapa sangka sore hari berkurang menyusut imannya. Pagi kurang imannya, sore hari mendapat hidayah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbicara tentang cepatnya perubahan kondisi seseorang.

“Orang Mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah Mukmin yang cerdas.”

(Hadis riwayat Ibnu Majah)

Mari kita duduk sejenak menyapa hati dan diri kita meraba merasa kepastian apa yang menyakinkan tentang bagaimana akhir hidup kita. Mengingat liku-liku dari perjalanan hidup bukanlah aib yang mesti ditutupi ditakuti.

Bicaralah dengan hati kita tentang keadaan diri kita, capaian apa yang telah diraih digapai, telah siap-kah menuju akhir kehidupan yang pasti datang menghampiri. Berusaha menghadirkan suasana husnul khatimah saat perpisahan dengan seluruh yang kita kenal dan miliki. Utamanya adalah bagaimana kita mengakhiri kehidupan ini?

Segera bangkit untuk perbaiki akhir kehidupan dengan istighfar awal tanda taubat kemudian penuhi relung hari dengan amal kebajikan. Mulailah dari Shubuh dengan kebaikan dan akhiri malam dengan kebaikan. Jangan pernah remehkan akhir dari segalanya, siapa tahu itu adalah akhir hidup kita.