Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Perjuangan adalah keniscayaan keimanan seseorang

Pendidikan 22 Des 2020
Opini oleh Tholhah Nuhin
Perjuangan adalah keniscayaan keimanan seseorang
Perjuangan adalah keniscayaan keimanan seseorang © Distinctiveimages | Dreamstime.com

Setelah nilai keimanan mengkristal dalam jiwa seorang mukmin, maka ia harus mampu menjadi ‘Ruh Jadid’ (jiwa baru) yang terus mengalir dalam tubuh umat untuk menciptakan ‘Hayat Quraniah’. Inilah jihad perjuangan dan ia adalah keniscayaan keimanan seseorang.

Ia harus menjadi cahaya baru yang mampu memberikan pencerahan kehidupan matrialis dengan nilai-nilai ilahiah. Harus senantiasa menyerukan risalat nabawiah di tengah-tengah masyarakatnya.

Perjuangan adalah keniscayaan keimanan seseorang

Karena api perjuangan tidak akan pernah padam sampai hari Kiamat. Artinya setiap kita yang telah mengikrarkan diri kita sebagai mukmin harus terus membawa obor estafet jihad sepanjang kehidupan kita. Baik itu Jihad Jasadi, Jihad Maali, Jihad Ilmi, Jihad Amali, Jihad Siasi dan seterusnya.

Ternyata, kita – sebagai mukmin – telah melakukan barter dengan Allah SWT; kita jual seluruh jiwa, raga dan harta kita kepada Allah semata dengan imbalan Jannah-Nya. Oleh karenanya, jihad dan dakwah adalah keniscayaan iman.

Dan pengorbanan di atas jalan ini adalah suatu keharusan dan kewajiban seorang mukmin. Karenanya Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

(Quran surah at-Taubah, 9:111)

Rasulullah SAW telah bersabda:

“Barang siapa yang meninggal, sedangkan ia tidak pernah berperang dan tidak pernah meniatkannya, maka ia akan mati di atas cabang kemunafikan.”

(Hadis riwayat Imam Muslim)

Perjuangan atau ‘Jihad Jasadi’ yang pernah dilakukan saudara-saudara kita yang berada di bumi Palestine, negeri Seribu Satu Malam Irak dan bumi Afganistan adalah bentuk utuh barter yang dilukiskan dalam ayat di atas.

Membangun nilai kebenaran dan pesona keislaman

Sementara umat Islam di belahan negeri lain, mereka memiliki kewajiban jihad dengan dimensi yang lain. Mereka berkewajiban untuk menggalang dana dan kontribusi lain demi membantu dan mentaayid (mendukung) perjuangan saudara-saudara mereka yang sedang menghdapi kezaliman dan kebiadaban musuh-musuh Allah SWT.

Ini juga merupakan bentuk jihad yang dianjurkan Al-Islam. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang membiayai orang yang berperang di jalan Allah, maka sesungguhnya ia telah berperang. Dan barang siapa membantu dengan kebaikan keluarga orang yang berperang, maka ia sesungguhnya telah berperang.”

(Muttafaqun Alaih)

Dalam bingkai Jihad Siasi (politik) yang sedang berlangsung dan diemban sebagian umat Islam, dimensi ruhiah imaniah harus terus mendapatkan ri’ayah (pemeliharaan) yang serius. Tentunya dengan tidak mengasimpangkan ri’ayah-ri’ayah pada dimensi lainnya. Karena medan Jihad Siasi sangat terjal dan penuh rintangan.

Godaan harta yang tidak layak dan tidak semestinya di miliki oleh politikus muslim akan senantiasa mewarnai medan perjuang ini. Maka seorang muslim yang telah diamanahi jabatan-jabatan strategis dalam bidang siasat (politik) harus mampu menjaga citra Islam.

Membangun susasana politik yang kondusif dengan nilai-nilai kebenaran dan kepribadiannya senantiasa mempesona dengan pesona-pesona keislaman. Ia harus bisa mempengaruhi orang yang ada di sekitarnya dengan nilai-nilai kebaikan dan keindahan Islam.

Bukan sebaliknya, menjadi liar dan menggunakan jurus aji mumpung untuk mengegolkan kepentingan-kepentingan sesaat. Harus selalu mengacu pada kaidah-kaidah dakwiah.