Pertarungan antara yang hak dan batil

dreamstime_s_126919522
Antara yang hak dan batil © Ig0rzh | Dreamstime.com

Sudah menjadi sunatullah bahwa pertarungan antara yang hak dan yang batil takkan pernah selesai. Ia sudah ada semenjak adanya manusia. Dan akan tetap ada sampai seluruh manusia musnah.

Ketika Iblis diusir Allah SWT dari Surga, lalu meminta diperpanjang umurnya lalu Allah mengabulkannya. Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.”

Allah SWT berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” Semenjak itu Iblis bertekad menyesatkan manusia anak keturunan Adam a.s.

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”

Dan semenjak itu pula pertarungan antara hak dan batil berlangsung mengisi halaman sejarah kemanusian. Tidak satu masapun yang kosong dari pertarungan ini. Pertarungan abadi sampai hari Kiamat kelak.

Episode demi episode akan terus berlanjut, walau pemainnya pun silih berganti. Namun pada akhirnya pertarungan selalu dimenangkan oleh mereka yang ikhlas mengharapkan rida Allah SWT semata. “Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. Mereka yang selalu istikamah di jalan yang lurus dan tidak tergoda dengan indahnya kemilau dunia yang menyesatkan.

Allah SWT berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya) “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”

Bisa jadi tidak banyak yang mengikutinya walau berdakwah ratusan tahun seperti Nabi Nuh a.s. Bisa jadi terusir dari kampung halaman atau mati terbunuh seperti Nabi Zakaria a.s, Nabi Yahya a.s dan tukang sihir Firaun yang beriman.

Mereka menang karena istikamah di jalan kebenaran dan sabar menghadapi berbagai ujian dan ancaman dalam perjalanan. Mereka menang karena tak hendak menukar kenikmatan akhirat yang abadi dengan kenikmatan dunia yang fana. Mereka menang, karena tak hendak berdamai dengan kebatilan dan pendukungnya, walau harus terusir, diboikot, dipersempit pintu pintu rizki, bahkan dibunuh sekalipun.

Mereka menang karena tak hendak menjual agama dengan sedikit harta dunia dan bersenang senang dengan musuh Allah SWT. Itulah kemenangan hakiki yaitu kemerdekaan jiwa dari segala bentuk tekanan dan penghambaan selain penghambaan pada Allah Pemilik Alam Semesta.