Petarung versus pecundang

Masyarakat 17 Feb 2021 Komiruddin
Komiruddin
Petarung versus pecundang
Petarung versus pecundang © Simona Pilolla | Dreamstime.com

Hidup adalah pertarungan. Pertarungan untuk mememantapkan eksistensi diri di hadapan Sang Pencipta. Semua berhak mengaku petarung. Namun panggung kehidupan adalah ring yang akan menguji dan sekaligus sebagai saksi dari pengakuan itu.

Kelak akan terbukti siapa petarung sejati dan siapa yang hanya mengklam diri sebagai petarung, padahal sesungguhnya ia adalah pencundang.

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

(Quran surah Muhammad, 47:31)

Petarung versus pecundang

Petarung adalah mereka yang siap dengan resiko dari setiap keputusan dan sikap.

 “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:249)

Sementara pecundang adalah mereka yang mencari aman dan mundur sebelum bertarung.

“Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:249)

Petarung adalah mereka yang terus mengaum tak takut ancaman.

“Firaun berkata: Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu). Sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.”

“Mereka berkata: Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

(Quran surah ash-Shu’ara, 26:49-50)

Sementara pecundang mereka yang diam atau sesekali berteriak, lalu mundur teratur dan akhirnya melempam.

“Dan mereka berkata: Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.”

(Quran surah al-Qasas, 28:57)

Bagaimana sifat seorang petarung dan pecundang?

Petarung adalah mereka yang menangkap setiap tantangan adalah peluang.

 “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita“. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”

(Qurah surah al-Ahzaab, 33:22)

Sementara pecundang adalah mereka yang mencari alasan pembenaran untuk menutupi ketakutan dan kekurangan.

“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.”

(Quran surah al-Ahzaab, 33:13)

Petarung adalah mereka yang bisa berdialog dan menggunakan logika.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” Lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:258)

Sementara pecundang adalah mereka yang suka mengancam dan lebih mengedepankan otoritas dan perasaan.

 “Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”

(Quran surah al-A’raaf, 7:88)

Petarung adalah mereka yang bebas, tak tertekan dengan masa lalu dan tak takut akan masa depan.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah. Kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

(Quran surah al-Ahqaf, 46:13)

Sementara pecundang adalah mereka yang dihantui masa lalu dan dibayang-bayangi ketakutan masa depan.

Karena itu, jangan pernah mengaku penyelam yang ulung bila takut terhadap gelombang. Jangan pernah mengaku pendaki yang handal bila takut pada ketinggian.