Pokok Kufu’ – persamaan akidah

Iman Roni Haldi Alimi 29-Okt-2020
dreamstime_s_73121207 (1)
Pokok Kufu' - persamaan akidah © Lestertairpolling | Dreamstime.com

Setiap pernikahan antara laki-laki dengan perempuan memiliki konsekuensi yang sangat besar. Oleh karenanya, sepasang suami-istri harus mempunyai pondasi yang sangat kuat agar keberlangsungan kehidupan keluarga berlangsung sampai akhir hayat.

Keseimbangan antara suami dan istri akan lebih menjamin keharmonisan rumah tangga dan kesuksesan hidup serta dapat menghindarkan diri dari keretakan dan kehancuran keluarga.

Makna Kafa’ah

Secara bahasa istilah ini diambil dari bahasa Arab yaitu Al-Kafa’ah. Jika dirujuk ke dalam kamus besar Lisan Al-Arab, Ibnu Manzhur (w. 711) memberikan keterangannya bahwa kata ini berarti ‘misal, padanan, atau tandingan’.

Jadi istilah se-kufu’ maksudnya adalah sepadan, sesuai, semisal. Yaitu kesepadanan antara calon suami dan calon istri satu dengan yang lainnya dalam banyak aspek. Dari sekian kriteria atau aspek se-kufu’, akidah adalah pokok Kufu’ yang paling penting.

Kesadaran tentang perhatian akidah ini setidaknya bisa di dapat melalui hadis Rasululullah SAW berikut yang sudah sangat akrab ditelinga kita semua :

Dari Abi Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.”

(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kisah Keteguhan Akidah Sahabat Rasulullah SAW

Tersebutlah sebuah kisah seorang Sahabat Rasulullah SAW yang dikirim ke Makkah untuk berunding dengan orang-orang Quraisy tentang pembebasan kaum muslimin yang ditawan oleh orang-orang Quraisy, Sahabat itu bernama Martsad al- Ghaznawi.

Setelah kewajibannya hampir rampung dan bersiap-siap meninggalkan Makkah, bertemu lah dia dengan seorang perempuan bernama Inaq, bekas kenalan lamanya, tegasnya bekas kecintaannya.

Kembalilah perempuan Quraisy itu mengajak menyambung cinta lama yang pernah mereka bina bersama. Dengan terus terang Martsad mengatakan bahwa hidupnya kini telah berubah, tak seperti dalam sangkaannya dulu.

Martsad mengakui, “Aku telah masuk Islam dan diantara kita telah ada dinding pembatas yang tak boleh dan bisa aku langkahi. Kecuali jika engkau mau mengikutiku masuk ke dalam Islam.”

Mendengar jawaban Martsad, sakit hati lah Inaq kepadanya. Rupanya cinta lama tak jadi bersemi kembali, harapan penuh tak buahkan hasil. Martsad telah berubah terhadapnya sejak kepindahannya ke dalam Islam meninggalkan agama nenek moyang mereka.

Sekembali ke Madinah, Martsad menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. Menurut Imam as-Suyuthi, bersebab peristiwa itulah turunlah ayat:

“Dan janganlah kamu kawini perempuan-perempuan musyrik, sehingga mereka beriman.”

(Surah al-Baqarah : 221)

Begitulah dijelaskan oleh Buya Hamka dalam buku tafsirnya, Al-Azhar. Menegaskan akan kedudukan akidah yang memiliki posisi penting dalam memilih dan menentukan pasangan hidup berumah tangga bagi umat Islam.

Jika Islam telah menjadi keyakinan hidup, hendaklah berhati-hati dalam memilih menentukan pasangan hidup. Sebab seorang istri adalah teman hidup dalam menegakkan sendi-sendi rumah tangga yang bahagia berlandaskan dengan iman, melahirkan anak-anak yang shalih.

Sebenarnya Kufu’

Pokok Kufu’ itu adalah persamaan pendirian, persamaan kepercayaan dan anutan agama. Karena jika seorang laki-laki muslim tertarik kepada perempuan musyrik karena kecantikannya, dan seorang perempuan muslimah tertarik kepada seorang laki-laki musyrik karena keturunan dan kekayaannya.

Bersebab pendirian antar keduanya berlainan berbeda, maka telah tegas Islam melarang terjadinya perkawinan mereka. Karena sebuah rumah tangga tidak akan ada keamanan dan ketenangan jika  berbeda akidah pendirian keduanya. Pokok Kufu’, yaitu persamaan akidah.