Politik itu kotor atau penentu nasib bangsa?

Masyarakat 23 Nov 2020 Komiruddin
dreamstime_s_37214795
Politik itu kotor atau penentu nasib bangsa? © - Dreamstime.com

“Alaa.. Sudahlah… Politik ujung- ujungnya kekuasaan… Kalau sudah berkuasa, lupa.”

“Enggak usah munafiq…. Politik itu yang dicari hanyalah uang.”

“Politik itu kotor. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.. Kalau sudah dapat, enggak ingat kita lagi.”

Itulah lontaran pendapat yang sering kita dengar. Ungkapan yang menggambarkan kekecewaan terhadap perilaku politisi.

Apabila sudah mendapatkan jabatan, sering lupa?

Ada benarnya juga. Sebab banyak para politisi apabila sudah mendapatkan jabatan sering lupa dengan para pemilihnya. Saat kampanye sering berkunjung, menyapa dan mendatangi konstituennya.

Bahkan tidak jarang nginap bersama mereka dan gampang ditemui dan mudah dimintai bantuan. Namun setelah terpilih batang hidungnya tak pernah terlihat lagi, menghilang dan susah ditemui.

Fenomena yang banyak kita temui pada politisi. Walaupun tidak semua politisi seperti itu. Banyak juga yang sederhana, merakyat, menyapa dan berbaur dengan masyarakat.

Sebenarnya tidak ada masalah, kalau partai politik itu didirikan untuk mencari kekuasaan, karena itu memang tujuan asasinya. Malah, jika ada partai politik didirikan tidak untuk kekuasaan dan mencari uang itu patut dipertanyakan. Partai apa ini?

Masalahlah bukan pada uang dan kekuasaannya, tapi ketika kekuasaan sudah diraih digunakan untuk apa? Atau ketika uang sudah bertumpuk, akan disalurkan untuk apa?

Jika untuk memperkaya diri atau golongan tertentu saja, maka ini yang berpotensi menyimpang dan salah. Tapi jika kekuasaan dan uang itu diraih untuk meratakan kesejahteraan, membuat kebijakan yang pro rakyat dan membangun peradaban, maka kekuasaan itu wajib diraih.

Para politisi juga salah satu elemen penentu nasib anak bangsa

Saya teringat perkataan sahabat saya Ahmad Heryawan,  gubernur Jawa Barat dua periode:

“Sebelum menjadi Gubernur saya hanya dapat mengusahakan bangunan paling banyak 2 masjid dan 4 lokal kelas serta memberi santunan paling banyak 200 orang miskin setiap tahun. Tapi setelah saya jadi gubernur, ribuan lokal kelas dan masjid bisa saya bantu, ribuan fakir dapat disantuni dan ribuan kilo jalan dapat saya bangun.”

Jadi, Janganlah terlalu apriori dengan para politisi dan partai politik. Masih ada partai politik yang idealis dan bercita cita luhur, sebagaimana masih banyak politisi yang jujur dan bersih.

Diakui atau tidak, mereka para politisi adalah salah satu elemen penentu nasib anak bangsa (tentu setelah Allah SWT). Jika kita tidak perduli, maka kita tidak akan diperdulikan.

Ada kata kata indah dari Najmuddin Erbakan, mantan Perdana Menteri Turki yang patut kita renungkan.

“Orang-orang Muslim yang tidak perduli pada politik akan dipimpin oleh para politikus yang tidak perduli pada orang-orang Muslim.”