Praduga dan dialog

Masyarakat Komiruddin
Terbaru oleh Komiruddin
Praduga dan dialog
Praduga dan dialog © Reza Fahmi Kalkasandi | Dreamstime.com

Tentang ‘Praduga dan dialog’ – Ada pepatah Arab yang sering kita kutip:

“Al-insan aduwwu ma jahila ~ Manusia itu musuh dari apa yang tidak ia ketahui”.

Yaitu sesuatu yang tidak kita ketahui cenderung atau berpotensi untuk kita jadikan musuh.

Praduga dan dialog

Ketika Musa a.s diperintahkan Allah SWT untuk melemparkan tongkatnya lalu menjadi ular, Musa a.s pun berlari ke belakang karena takut. Itu karena dia tidak tahu, bahwa tongkat itu ketika dipegang lagi akan kembali kepada bentuknya pertama.

“’Dan lemparkanlah tongkatmu’. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ‘Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku’”.

(Surah an-Naml, ayat 10)

Ketika Nuh a.s, membuat kapal besar di atas bukit dan jauh dari sungai dan laut, orang-orang kafir langsung mengejek dan meremehkan, bahkan menganggap nabi Nuh pikun dan gila. Itu karena mereka tidak tahu bahwa dunia ini akan tenggelam.

“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).”

(Surah Hud, ayat 38)

Dalam perjalanan bersama nabi Khidir a.s, Musa a.s selalu bertanya kepadanya tentang apa yang dilakukannya, sebab hal itu diluar pengetahuan dan nalarnya. Jadi, ketidak-tahuan dapat berpotensi menimbulkan permusuhan, sebab kadang hanya berdasarkan asumsi dan praduga semata.

Itu sebabnya Allah SWT menyuruh kita tabayyun (minta penjelasan) atas perkara dan berita yang kita terima agar setelah itu tidak ada penyesalan.

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

(Surah al-Hujurat, ayat 6)

Ruang dialog dan diskusi

Allah SWT juga melarang kita berpraduga, tajassus (memata-matai) dan membicarakan tentang keburukan seseorang yang tidak berdasarkan fakta.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.”

(Surah al-Hujurat, ayat 12)

Langkah ini (tabayyun, tidak berprasangka buruk, memata-matai dan berbicara keburukan tanpa fakta) dilakukan agar tidak terjadi kesalah pahaman yang pada akhirnya berakibat pada penyesalan.

Dalam masalah-masalah yang mengganjal terbuka ruang dialog dan diskusi. Dengan dialog dan diskusi akan jelas permasalahan dan semua perkara akan ditemukan titik terangnya.

Inilah ibrah yang kita bisa petik dari dialognya nabi Sulaiman a.s dengan burung Hud hud. Dengan adanya dialog satu negeri yaitu negeri Saba dapat diselamatkan dari kesesatan.

Jika dengan burung Hud-hud saja nabi Sulaiman a.s menyempatkan dialog, maka seharusnya kita terhadap sesama aktivis dakwah itu lebih utama.

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”