Puasa Asyura di bulan Muharam dan hikmahnya

Asyura dan Muharam © Allexxandar | Dreamstime.com

Waktu demi waktu yang kita lalui telah mengantarkan kita pada tahun baru (menurut kalender Hijriah), bulan Muharam 1442 Hijriah. Di bulan Muharam ini ada momen istimewa dalam Islam yang dikenal dengan puasa Asyura yang dilakukan pada 10 Muharam setiap tahunnya. Pada Muharam 1442 H tahun ini, jadwal puasa Asyura jatuh pada Sabtu, 29 Agustus 2020.

Berbagai peristiwa penting terjadi pada tanggal 10 muharram tersebut, mulai dari taubat Nabi Adam a.s diterima oleh Allah SWT, hingga tragedi menyedihkan di padang Karbala saat pembunuhan cucu Rasulullah SAW, Hussein bin Ali r.a. Pada hari Asyura juga, setiap amalan baik dilipatgandakan pahalanya, karena termasuk dalam keutamaan bulan Muharam. Sebaliknya, siapa yang mengerjakan perbuatan buruk, dosanya juga digandakan.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran :

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Surah at-Taubah, ayat 36)

Salah satu amalan yang bisa kita lakukan untuk mengawali tahun yang baru ini adalah dengan melaksanakan puasa sunah Asyura. Puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharam ini merupakan puasa sunah yang utama.

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah – Muharam. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (Hadis riwayat Muslim)

Puasa Asyura mendapatkan perhatian yang besar dari Rasulullah SAW. Ibnu Abbas r.a berkata: “Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya daripada puasa pada hari ini, hari Asyura dan puasa bulan Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun hikmah yang dapat diraih bila kita melaksanakan puasa Asyura. Pertama, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari kejahatan orang-orang kafir, yaitu selamatnya Nabi Musa a.s dan Harun a.s bersama Bani Israil dari kejahatan Firaun dan pengikutnya.

Kedua, upaya meneladani Nabi Musa a.s, Harun a.s dan Nabi Muhammad SAW yang berpuasa pada hari Asyura. Serta meneladani para sahabat Nabi Muhammad yang melakukan puasa Asyura, bahkan melatih anak-anak mereka untuk melakukan puasa Asyura.

Ketiga, sebagai manusia biasa kita tidak luput dari salah dan khilaf. Nah, puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Sebagaimana  Rasulullah SAW bersabda, “Puasa Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim). Imam an-Nawawi r.a berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar.”

Kemudian, kita juga mengenal bahwa perintah puasa Asyura mempunyai periode sejarah. Sebelumnya puasa Asyura dilakukan oleh kaum musyrikin mekah, dan Nabi pun ikut berpuasa. Kemudian ketika beliau dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW juga  mendapati kaum Yahudi di sana berpuasa, dan pada waktu itu puasa asyura hukumnya wajib sebelum adanya perintah puasa Ramadan.

Ketika  turun perintah wajibnya puasa Ramadan, maka puasa Asyura menjadi sunah (anjuran). Lalu saat menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab baginda Nabi Muhammad SAW bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadis Ibnu Abbas r.a juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu ada kekeliruan  dalam penentuan hari Asyura (tanggal 10 Muharram).