Puasa – bau mulut ketaatan?

Puasa 27 Apr 2021 Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Puasa - bau mulut ketaatan?
Puasa - bau mulut ketaatan? © Heru Anggara | Dreamstime.com

Mulut salah satu kelengkapan sempurna diri. Tak elok tampaknya, ada orang tapi tak miliki mulut. Dengan mulut berjalan lancar komunikasi. Mulut sebagai pintu masuk makanan dan minuman.

Namun disebabkan mulut putus dan hancur persaudaraan persekutuan. Mulut bisa menghadirkan kebaikan namun juga mendatangkan keburukan.

Mulut orang berpuasa lebih harum dari bau minyak kasturi?

Di kala Ramadan hadir, salah satu alat kelengkapan diri yang diharamkan sementara waktu difungsikan sebagai pintu masuk makanan dan minuman adalah mulut. Saat fajar shadiq masuk, mulut yang sudah bersahur dihentikan dari mengkonsumsi. Stop makan dan minum.

Saat siang merangkak naik, mulut orang yang berpuasa terasa kering lagi pahit menebar bau tak enak. Bahkan banyak orang menjadi lebih pendiam karena takut ‘mengganggu’ lawan bicara.

Namun Rasulullah SAW pernah mengabarkan kalau bau mulut orang berpuasa lebih harum dari bau minyak kasturi. Benarkah?

Keutamaan bau mulut orang yang berpuasa

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Ibnu Rajab Rahimahullah dalam kitab Nida’ur Rayyan Fi Fiqhi Shaum berkata:

“Bau yang naik berupa uap karena kekosongan lambung dari makanan ketika puasa. Bau yang tidak disukai oleh penciuman manusia di dunia. Akan tetapi baik di sisi Allah karena muncul dari ketaatan dan mencari keridhaan Allah. Sebagaimana darah orang yang syahid akan datang pada hari kiamat, warnanya warna darah tetapi baunya bau misk.”

Dibenci diri dan dihindari manusia lain, namun Allah Taala sangat menyukai karena tanda bukti ketaatan dan keridhaan Allah.

Taat kepada Allah SWT mendatangkan keberkahan

Setiap kesusahan dan rasa capek yang timbul karena ketaatan akan berbuah manis di akhirat kelak. Moga kita tidak patah semangat dalam beramal lebih-lebih lagi di bulan Ramadan.

Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Lathaiful Ma’arif halaman 288 menguatkan :

“Segala sesuatu yang dianggap kurang di dunia menurut pandangan manusia namun jika itu didapati karena melakukan ketaatan pada Allah dan mencari ridha-Nya, maka hakekatnya kekurangan tersebut adalah kesempurnaan (di sisi Allah).”

Ambillah keredhaan Allah Taala daripada manusia. Taat kepada Allah akan mendatangkan keberkahan di dunia dan akhirat. Janji jaminan Allah itu pasti. Apalagi berkait dengan keutamaan bulan Ramadan.

Bau mulut di dunia, bau minyak kasturi di akhirat.