Puasa dan kesehatan – niscaya kalian akan sehat

Puasa dan kesehatan © Federico Marinic | Dreamstime.com

Sejak sekolah menengah pertama, saya telah mendengar sebuah hadis riwayat Thabrani yang berbunyi, ‘Shumu Tasihhu.’ Hadis ini berarti “berpuasalah niscaya kalian akan sehat.” Namun, tidak pernah saya mengimani hadis ini sekuat sekarang ini. Kepercayaan saya tentang adanya hubungan yang erat antara puasa dan kesehatan muncul setelah membaca respon dunia kesehatan dalam menghadapi fenomena COVID-19 dan menyaksikan secara langsung bagaimana puasa digunakan dalam sebuah gaya hidup.

Penyebaran virus corona telah banyak melahirkan banyak asumsi dan teori. Salah satunya dikatakan bahwa sebagaimana umumnya virus, penyakit ini akan menyerang tubuh dengan kadar imunitas yang rendah. Saat virus masuk dan berinkubasi selama tujuh hari pertama, tubuh akan mengeluarkan imunitasnya dan melakukan perlawanan. Sepanjang imunitas tubuh kita tinggi, maka virus dapat dikalahkan.

Pertanyaannya, bagaimana meningkatkan imunitas tubuh kita? Salah satunya adalah dengan cara berpuasa. Puasa diyakini meregenerasi sel-sel tubuh dan memperbaharui kerusakan yang terjadi akibat pola hidup yang tidak sehat. Bila masa puasa Ramadan telah berlalu, maka berpuasa sunah Senin dan Kamis sangat dianjurkan. Di samping itu, Islam juga merekomendasikan umatnya untuk puasa Ayyam al-Bidh. Puasa selama tiga hari berturut-turut ini dilakukan pada pertengahan setiap bulan hijriah, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15.

Menurut sebuah penelitian puasa selama 3 hari setiap bulan ini dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh, termasuk para lansia. Studi tersebut menyebutkan bahwa puasa dapat merangsang sel untuk menghasilkan sel darah putih yang baru, yang dapat membantu dalam memerangi infeksi apapun.  Nah, bila kita berpuasa sunah Senin dan Kamis sebanyak 8 hari  dalam sebulan ditambah dengan 3 hari puasa Ayyam al-Bidh, maka total puasa kita dalam sebulan adalah 11 hari.

Tentu hal ini merupakan pencapaian yang luar biasa, sebab jumlahnya hampir menyentuh setengah bulan dari puasa Ramadan. Maka dapat dibayangkan, betapa sel-sel kita yang rusak bisa tergantikan dengan sel-sel baru dengan media puasa.

Akhir-akhir ini, saya juga merupakan pelaku Ketofastosis; sebuah lifestyle yang memiliki pola makan rendah karbo dan tinggi lemak. Di samping itu, pola makan juga diselingi oleh puasa dari jam 20.00 hingga 12.00 (intermitten fasting). Kombinasi antara pola makan rendah kalori dengan puasa ini banyak menyajikan testimoni kesembuhan pelaku Ketofastosis dari berbagai penyakit. Walaupun gaya hidup Ketofastosis ini masih diperdebatkan, namun banyaknya bukti kesembuhan sebagai living proof membuat gaya hidup Ketofastosis tetap diminati.   

Dalam dunia medis, penelitian tentang hubungan antara puasa dan kesehatan sudah banyak dilakukan. Penelitian terbaru disampaikan oleh pemenang Nobel tahun 2016 dari Jepang, Profesor Yoshinori Ohsumi. Ia dapat membuktikan secara ilmiah bahwa puasa berkaitan erat dengan autophagy. Dengan autophagy, sel dapat mengisolasi bagian yang telah mati, rusak, tak bisa diperbaiki, atau  terserang penyakit maupun terinfeksi.

Setelah mengisolasi bagian yang bermasalah, sel kemudian menghancurkan bagian tersebut menjadi sesuatu yang tidak membahayakan dan melakukan daur ulang untuk menghasilkan energi dalam sel. Dari mekanisme ini, komponen-komponen sel yang rusak akan dibangun dan diperbaharui kembali. Pada kasus sel yang terkena infeksi, autophagy juga dapat mengeliminasi bakteri atau virus penginfeksi.

Autophagy memegang peran besar dalam tubuh. Ia  memiliki mekanisme mengontrol fungsi-fungsi fisiologis penting di mana komponen sel perlu didegradasi dan didaur ulang. Lantas, kapankah kondisi autophagy berlangsung dalam tubuh? Tentu saja dalam kondisi ketika kita berpuasa. Jadi jelas? Shumu Tasihhu! Kata Nabi Muhammad SAW.