Puasa sunah Senin-Kamis untuk umat Islam 

Dunia Taufiq Sugeng 02-Jun-2020
© Tristan Scholze | Dreamstime.com

Bagi para kaum Muslim, ibadah puasa bukan sesuatu yang asing lagi, karena ibadah ini termasuk kedalam rukun islam yang ketiga yang mana disetiap tahunnya mereka akan melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh, yaitu saat bulan Ramadan.

Saum atau puasa sendiri bagi orang islam adalah suatu ibadah yang mengharuskan untuk menahan diri dari makan, minum, dan juga segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Waktu melaksanakan puasa adalah mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan beberapa syarat yang telah ditentukan dengan tujuan untuk meningkatkan keimanan seseorang.

Jika Puasa pada bulan Ramadan merupakan kewajiban, tentunya terdapat beberapa jenis puasa sunah yang juga dapat dikerjakan untuk mendapatkan pahala. Puasa sunah ini sesuai dengan hukumnya yaitu sunah, apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak akan berdosa. Ada beberapa jenis puasa sunah yang sering dilakukan oleh umat islam.

  • Puasa Syawal – Setelah melakukan kewajiban untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh selanjutnya anda bisa melanjutkan untuk melakukan puasa sunah syawal yang dapat dilakukan selama 6 hari baik berturut-turut atau acak dengan syarat masih dalam bulan Syawal.
  • Puasa Dzulhijah – Merupakan puasa sunah yang dilaksanakan selama 9 hari pertama pada Bulan Dzulhijah.
  • Puasa Arafah – Puasa sunah satu ini dilaksanakan hanya selama satu hari pada hari ke-9 Bulan Dzulhijah.
  • Puasa Isnin-Kamis – Jenis puasa sunah satu ini, dapat dilakukan dalam bulan apapun kecuali Ramadan, karena bulan Ramadan wajib dilaksanakan selama satu bulan. Tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis ataupun sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana ketika amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, lebih afdhal jika puasa Senin diikuti dengan puasa pada hari Kamis.

Untuk yang belum tahu, kenapa puasa Senin-Kamis ada dan sangat dianjurkan. Karena Rasulullah SAW sendiri melakukan puasa sunah pada dua hari ini, yang mana puasa sunah Senin-Kamis. Nama Senin-Kamis sendiri mengacu kepada penamaan hari yang mana dilaksanakannya amalan sunah tersebut.

Pernyataan jika Rasulullah sering melakukan amalan sunah ini terdapat pada sebuah riwayat: “Rasulullah SAW selalu menunggu-nunggu saat berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (Hadis riwayat Ahmad dari Aisyah r.a.)

Tentunya Rasulullah SAW memilih dua hari ini untuk dilaksanakannya puasa sunah bukan tanpa alasan atau hanya sekedar asal-asalan. Ada beberapa alasan Rasulullah memilih kedua hari ini yang setidaknya dianggap menjadi hikmah, mengapa harus Senin dan Kamis.

Hari lahirnya Nabi Muhammad SAW – Dalam sejarah islam tercatat jika pada hari Senin atau hari kedua dalam bulan Qamariah Nabi Muhammad SAW terlahir ke dunia. Dalam beberapa riwayat tertulis, bahwa Nabi pernah ditanya mengenai puasa Senin. Kemudian Baginda bersabda, “itu adalah hari aku dilahirkan , diangkat menjadi Nabi, dan diturunkannya kepadaku Al-Qr’an (pertama kali).” (HR Muslim dari Abu Qatadah Al-Anshari)

Hari pelaporan amal ibadah – Di antara alasan lain yang mengandung hikmah pemilihan Senin-Kamis sebagai puasa sunah adalah berkaitan dengan dimana amal ibadah manusia “diperiksa” oleh Allah SWT. Sebagaimana yang tertulis dalam beberapa riwayat yang maqbul (diterima), Rasulullah SAW bersabda:

“Amal-amal perbuatan manusia dilaporkan dua kali dalam seminggu, yaitu hari Senin dan Kamis. Setiap orang yang beriman akan mendapat ampunan Allah, kecuali orang yang antara dirinya dan saudaranya ada perselisihan. Dikatakan, Akhirkanlah (ampunan bagi) keduanya, sampai mereka berdamai.” (HR Muslim dari dari Abu Hurairah)

Hari pembukaan pintu gerbang surga – Hikmah selanjutnya, seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Pintu-pintu surga dibukakan pada hari Senin dan Kamis. Semua hamba yang tidak melakukan syirik akan diampuni oleh Allah, kecuali ada orang yang memiliki rasa permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan kepadanya ‘tunda dulu ampunan bagi dua orang yang berselisih ini sampai keduanya berdamai,’ tunda dulu!” (HR Muslim dari Abu Hurairah)