Puncak pertolongan – ketergantungan hati kepada Allah SWT

Musulman prie avec les mains dans l'air
Puncak pertolongan - ketergantungan hati kepada Allah SWT © Razihusin | Dreamstime.com

Rupanya kehendak Allah SWT begitu mulia. Sekongkol jahat bersaudara telah menambah kecintaan Allah kepada Yusuf alaihis-salam. Begitu rapi dan terorganisasi mufakat jahat dijalankan. Membuat mereka puas diri menikmati kedudukan disisi ayahanda.

Kedudukan dirampas – di rumah sendiri – lewat makar jahat, diganti Allah SWT dengan kedudukan tinggi lagi terhormat di negeri orang lain. Di rumah sendiri dicemburui lagi didengki, Allah jamin untuk tinggal di mana saja yang dikehendaki. Ibaratnya, dihina lagi dimusuhi di rumah sendiri tapi mulia tiada berperi di negeri orang lain.

Pertolongan Allah SWT

Pun saat Yusuf a.s difitnah akibat hasrat-hasrat jahat wanita pembesar kerajaan. Ia memilih penjara sebagai tempat menjaga kehormatan diri, alih-alih memenuhi nafsu yang membujuk seru. Hingga beberapa purnama kemudian, kedudukan Yusuf dipergilirkan oleh sebab takwil yang diberikannya.

Satu nikmat sekaligus sebentuk pertolongan Allah SWT. Pertolongan Allah inilah yang kelak menguatkan posisi daya tawar Yusuf a.s di hadapan sang raja.

Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang ia kehendaki.”

(Surah Yusuf, 12:56)

Ujian demi ujian bukanlah pertanda pekatnya benci Allah SWT pada manusia yang diuji, melainkan bentuk kasih sayang-Nya. Seperti itulah yang Allah lakukan terhadap Yusuf a.s. Ujian yang mendera Yusuf tidak lain tarbiyah dzatiyah. Allah tak akan membiarkan apapun yang berlalu terhadap hamba-Nya. Ada waqfah, perhentian sejenak, yang mesti kita lalui selaku hamba-Nya.

Jaminan Allah SWT tentu tak sama dengan apapun yang dijaminkan oleh hamba-Nya. Banyak ayat menjadi bukti kebenaran jaminan pertolongan Allah terhadap hamba-Nya. Tidak hanya untuk para Nabi dan Rasul, namun juga untuk orang-orang beriman.

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat).”

(Surah al-Ghafir, 40:51)

Khalilullah Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam telah Allah SWT selamatkan dari kesombongan para penyembah berhala dengan kobaran api. Pertolongan hadir bertepatan bertemunya puncak kesombongan mereka dan pengharapan Ibrahim. Api kesombonganpun berubah dingin.

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.”

(Surah al-Anbiyaa, 21:69)

Ketergantungan hati kepada Allah SWT

Syeikh Abdul Aziz ath-Tharify berkata:

“Siapa yang bergantung kepada selain Allah, pasti ia takut terjatuh karena keteguhannya berkaitan dengan keteguhan siapa yang ia jadikan sandaran. Dan siapa yang bergantung kepada Allah, maka ia akan merasa aman karena Allah Maha Tinggi, kekal, tidak menghilang.”

Keyakinan serta ketergantungan hati kepada Allah SWT menjadi ukuran diri. Hal ini disebabkan setiap ujian pasti punya kunci jawaban. Nikmat tertinggi adalah puncak pertolongan Allah kepada kita.

Sebagaimana dulu dibuktikan para Nabi dan Rasul serta orang-orang beriman. Maka, mari kita gantungkan hati dan sandarkan diri hanya kepada Rabbul ‘izzati, bukan selain-Nya. Jadi, jangan pernah menggantungkan harapan kita pada selain Allah SWT. Sebab, kecewa diri sudah pasti menanti.

Untuk itu, gantungkanlah harapan pada pemilik harapan karena Allah SWT adalah pemilik segalanya.