Pungutlah jeda: melihat dalam diri dengan akal dan hati

Kesejahteraan Mental Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Pungutlah jeda: melihat dalam diri dengan akal dan hati
Pungutlah jeda: melihat dalam diri dengan akal dan hati © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Manusia miliki semacam rasa yang jika dibiarkan diam dipendam bisa menggelembung membengkak, bahkan bisa pecah. Rasa yang mendinginkan sikap membekukan otak. Hingga jenuh penat menjadi alasan mencari ruang masa untuk menepi mengasingkan diri dari belitan keseriusan kosong tak berujung.

Terkadang timbul keinginan mencoba untuk merayap dan menikmati masa, tapi acapkali waktu mengajak kita bergegas untuk segera beranjak pergi. Memilih untuk duduk berdiam atau bergerak secara perlahan adalah pilihan.

Tapi waktu tanpa kenal diam, ia terus bergerak menarik mengajak kita bertemu dengan masa hadapan. Apalagi hidup di zaman serba instan ini. Di mana waktu telah terbukti berhasil memancing memacu manusia agar tak berhenti terus berfikir dan bergerak meraih cita dan hawa nafsu yang tak pernah kenyang.

Sisakan waktu untuk jeda

Ada baiknya di tengah padatnya rutinitas sehari-hari, kita mengambil sela waktu untuk jeda sejenak. Meluangkan waktu sesaat untuk berbicara, berkomunikasi dengan diri. Berdialog dengan diri sendiri, mengajak nurani berbicara, akan menghadirkan ketenangan dan kedamaian.

Karena apa yang muncul dari nurani adalah kejujuran. Ianya akan menunjukkan mana kebaikan yang telah kita lakukan, dan mana keburukan yang telah kita kerjakan. Menimbang mana yang lebih banyak mendominasi. Agar timbangan akhirat tidak merugi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Quran surah adz-Dzariyat ayat 21:

“Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Jeda itu bukan berhenti

Mengambil jeda bukan untuk benar-benar berhenti. Tapi sekadar istirahat menghimpun tenaga agar kuat melawan hiruk pikuk belantara rimba kehidupan yang menghadang.

Setiap manusia butuh jeda, berhenti sejenak dari keriuhan kericuhan dan pancaroba dunia. Saat banyak dari kita tanpa henti terus berlomba mencapai destinasi fatamorgana bukan sebenarnya.

Berkacalah pada jedanya suami Khadijah binti Khuwalid r.a. Rasulullah SAW menepi menyendiri jauh dari keramaian tarikan nafsu. Gua Hira’ sebagai simbol jeda guna menjemput ketenangan sebenarnya dari Yang Maha Kuasa. Bukan jeda lari dari tanggungjawab, jeda sejenak menghimpun kekuatan membuka mata dunia.

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam mengatakan: 

“Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu. Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk ikut campur.”

Jeda itu adalah koma

Jeda adalah istirahat sejenak, menarik menghirup nafas sesegar-segarnya. Karena setiap hidup butuh jeda, bukan untuk berhenti tapi sekadar untuk mereflesikan diri dan melihat ke belakang tentang apa yang telah dilakukan sekaligus menata apa yang harus dilakukan.

Dengan segala keriuhan yang terus terjadi di seluruh penjuru bumi, mengambil jeda adalah sebuah kemewahan yang mahal. Dengan jeda ada titik kembali bernama kesadaran. Jeda adalah koma dalam sebait kalimat kehidupan.

Tanpa koma, sebuah bait kalimat akan kosong tanpa makna. Dengan jeda juga, setiap frasa kehidupan akan menjadi bermakna. Pungutlah jeda untuk diri melihat ke dalam diri dengan akal dan hati.