Ramadan adalah wasilah keshalehan sosial

Puasa Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Ramadan adalah wasilah keshalehan sosial
Ramadan adalah wasilah keshalehan sosial © Odua | Dreamstime.com

Puasa Ramadan adalah ibadah mahdhah tahunan rutin dilaksanakan. Ada syarat yang mesti dipenuhi, juga rukun yang mesti sempurna dijaga. Karena puasa Ramadan wajib dilakukan, tentu punya konsekuensi bagi yang memenuhi syarat gugur kewajibannya.

Di antaranya sakit berat tak kunjung kesembuhan atau lainnya. Namun, kewajiban berikutnya mengganti di hari yang lain pasca Ramadan, atau disebut qadha dan juga fidyah bagi yang tak memungkinkan qadha puasanya.

Pesan ibadah sosial

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah, ayat 196:

“Jika ada di antara kamu yang sakit atau terkena gangguan dikepalanya (lalu bercukur), wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau menyembelih binatang ternak.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan ayat ini sebagaimana diriwayatkan Ka’ab Ibn ‘Ujrah Radhiyallahu Anhu dalam Musnad Imam Ahmad, jilid 4:

“Pada suatu hari aku dibawa menjumpai Rasulullah karena kutu di kepala ku mulai merayap di wajahnya. Rasulullah berkata: “Sepertinya kamu merasa kesulitan dengan kondisimu, apakah kamu punya kambing? Aku menjawab: Tidak ya Rasulullah. Beliau berkata: “Kalau begitu berpuasalah tiga hari atau berilah makan enam orang miskin, setiap orang miskin setengah sha’ makanan dan kemudian cukurlah rambut kepalamu.”

Sungguh rangkaian ayat dan hadis tersebut membawa pesan ibadah sosial secara terang tak disembunyikan. Kekurangan dan kelemahan diri menunaikan kewajiban ibadah mahdhah rutin seperti puasa Ramadan, ditutup diganti berupa fidyah memberi makan orang miskin sekitar.

Puasa Ramadan itu simbol ibadah wajib secara ritual. Sedangkan fidyah adalah bentuk ibadah sosial kemasyarakatan. Kekurangan atau cacat ibadah ritual ditebus diganti dengan amal sosial menyentuh lingkungan sekitar.

Fidyah adalah bentuk masdar dari kata dasar ‘Fadaa’, yang artinya mengganti atau menebus. Adapun secara terminologis fidyah adalah sejumlah harta benda dalam kadar tertentu yang wajib diberikan kepada fakir miskin sebagai ganti suatu ibadah yang telah ditinggalkan. Begitulah dijelaskan oleh Ibnu Mandhur dalam Lisanu ‘Arab terang makna fidyah.

Ibadah menyeluruh

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Bidayah Al Hidayah menguatkan:

“Ibadah yang memberi manfaat menyeluruh lebih besar nilainya daripada ibadah yang hanya mendatangkan manfaat sesaat hanya untuk dirinya sendiri.”

Inilah pemahaman dalam Islam sebenarnya. Pesan Rahmatan Lil alamin sangat kental terasa memenuhi seluruh segmen ibadah ritual. Islam mengajarkan ummatnya berjiwa peduli dengan sesama tak lebih mementingkan diri sendiri.

Peduli itu hadir setelah mengikis habis sifat merasa diri. Hal sejalan dengan sebuah kaedah fiqih: ‘Al ‘amal al muta’addi afdhalu min Al qashir’. Yaitu amal ibadah yang membawa pengaruh lebih luas lebih utama daripada amal ibadah yang hanya menghasilkan pengaruh terbatas.

Ramadan adalah wasilah keshalehan sosial

Puasa Ramadan adalah ibadah tersembunyi. Hanya orang yang berpuasa dengan Allah Ta’ala saja. Namun di balik itu ada nilai tarbiyah diajarkan bagi yang berpuasa, yaitu metode menghadirkan merasai lapar dari makanan dan dahaga dari minuman. Dua rasa yang sering berjumpa dengan perut dan kerongkongan si miskin.

Yuslam Fauzi dalam bukunya Memaknai Kerja berkata:

“Islam mengajarkan agar keshalehan individual berubah menjadi keshalehan sosial. Puasa Ramadan adalah salah satu wasilah pembinaan diri dan jiwa agar shaleh diri dan menshalehkan sosial sekitar.”

Jiwa dan diri yang berpuasa Ramadan akan terpanggil menyahuti kondisi keterpurukan sosial di sekitarnya. Jiwa dan diri orang yang berpuasa Ramadan akan bergerak peduli meringankan, bahkan mengangkat menghilangkan beban sosial kehidupan orang di sekitar. Puasa Ramadan menempa jiwa dan diri agar saling peduli dengan sesama.