Ramadan – jangan jadi hamba musiman!

Puasa Roni Haldi Alimi
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Ramadan - jangan jadi hamba musiman!
Ramadan - jangan jadi hamba musiman! © Ahmad Faizal Yahya | Dreamstime.com

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz r.a keluar rumahnya di hari Idul Fitri. Dalam khutbahnya beliau menyampaikan:

“Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa karena Allah Subhanahu Wata’ala selama tiga puluh hari. Demikian juga telah menunaikan shalat malam tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan diterima.” Pada momen demikian, ada seorang salaf yang menampakkan kesedihan. Kemudian ia ditanya, “Bukankah ini hari kegembiraan dan kesenangan?” Ia menjawab, “Benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba yang Allah perintahkan melakukan amalan. Sedangkan aku tidak tahu apakah amalan itu diterima atau tidak? Itulah yang membuatku sedih.”

Begitulah dituliskan oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Lathaiful Ma’arif. Menguatkan diri akan bukti kesedihan para Salafuna Shalihin, berpisah meninggalkan Ramadan yang mulia.

Hakikat pendidikan iman

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

(Quran surah aal-i Imran, ayat 79)

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa tarbiyah itu bukan untuk membentuk jiwa-jiwa penyembah nabi, pemimpin, ulama dan apa serta siapapun selain Allah SWT.

Namun tarbiyah itu dalam rangka membentuk jiwa-jiwa yang hanya mau mengabdi kepada Allah Taala semata. Memerdekakan jiwa, pikiran dan dirinya dari belenggu doktrin buta.

Penghambatan, ketundukan dan wala’  hanyalah milik Allah SWT dan Rasul semata. Jadilah manusia-manusia rabbani.

Bagaimana kita setelah Ramadan?

Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam Al Khasaisul Al ‘Ammah Lil Islam mendefinisikan Rabbaniyyun adalah:

“Kalimat dinisbahkan kepada Rabb. Insan Rabbani ialah seseorang yang mempunyai hubungan erat dengan Allah, alim tentang agama-Nya serta mengajarkannya.”

Ramadan bakal pergi menghilang, berganti Syawwal datang menjelang. Syawwal artinya peningkatan bukan kendur, apalagi sampai kedodoran hilang tanpa bekas. Tanyakan pada diri, pasca Ramadan pukul berapa bangun pagi? Berjamaahkah shalat lima waktu?

Berapa halaman Al-Quran telah dibaca? Apakah hari ini bersiap untuk buka puasa? Sudahkah shadaqah dikeluarkan? Pertanyaan yang mesti kita siapkan semenjak Ramadan agar kebiasaan baik di dalamnya terus terawat terjaga hingga Ramadan tahun berikutnya.

Teruskan tradisi kebaikan Ramadan

Ramadan pasti berlalu, namun semua ‘tradisi kebaikan Ramadan’ hendaknya terus berjalan sebagai hasil ‘tarbiyah Ramadan’. Sesungguhnya pasca Ramadan sebagai indikator lulus tidaknya seseorang dalam pelaksanaan ‘ujian’ sebulan penuh yang dilaksanakan siang dan malam.

Ramadan pasti berakhir dan pergi meninggalkan kita. Bahkan bisa jadi kita lebih dulu meninggalkan Ramadan sebelum ia berakhir sampai di penghujungnya. Yang baik itu adalah jadilah hamba-hamba yang taat sepanjang masa karena Allah Taala semata.

Dan jangan hanya menjadi para ahli ibadah dadakan lagi musiman selama musim Ramadan saja!