Ratu Balqis dan surah an-Naml dalam Quran

Kehidupan Komiruddin 11-Sep-2020
dreamstime_s_193822444
Belajar dari Balqis © Irina Kharchenko | Dreamstime.com

Karena hidup adalah masalah, maka setiap masalah harus diambil keputusan. Sekecil apapun keputusan pasti ada resiko di belakangnya. Seorang pengambil kebijakan selalu memprediksi setiap risiko yang akan terjadi dari keputusan yang akan diambil. Karena dengan itu ia secara mental siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Dalam hal memprediksi masa depan kita patut belajar dari Ratu Balqis. Dengan pandangannya yang jauh ke depan ia dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. Ketika Nabi Sulaiman a.s mengirim surat, Ratu Balqis langsung mengumpulkan elit dan pembesar istana.

Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Quran, surah an-Naml 27:29-30)

Lalu dia meminta tanggapan bagaimana menyikapi sepucuk surat tersebut. Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” (Quran, surah an-Naml 27:32)

Para pembesarpun urun pendapat. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan). Dan keputusan berada ditanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” (Quran, surah an-Naml 27:33)

Bilqis bukanlah wanita biasa. Kecerdasannya di atas rata-rata. Ia langsung menerima masukan dari pembesar pembesar istana. Sebab bisa jadi itu hanya basa basi untuk menyenangkan sang ratu. Tapi dia memiliki pandangan jauh ke depan dengan memprediksi kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan pengalaman.

Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya. Dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (Quran, surah an-Naml 27:34)

Dia punya cara lain untuk menaklukan dengan menyelidiki integritas seorang Sulaiman a.s yang berani beraninya mengancam. “Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Quran, surah an-Naml 27:31)

Maka iapun mengirim beraneka ragam hadiah yang mahal untuk mengetahui motif apa di balik surat itu. “Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (Quran, surah an-Naml 27:35)

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Nabi Sulaiman a.s, Baginda berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (Quran, surah an-Naml 27:36)

Ketika hadiah tersebut dikembalikan, saat itulah sang Ratu memahami kondisi yang sebenarnya sehingga pada akhirnya dia dapat mengambil keputusan yang tepat. Bayangkan bila dia mengikuti egonya dan termakan dengan gosokkan orang sekelilingnya yang belum tentu ikhlas dalam memberikan saran masukan tentu dia akan hancur.

Syukurlah dia lebih memilih berdamai dengan keadaan daripada harus menghadapi anak muda bernama Sulaiman a.s, yang ancamannya saja sudah mengerikan.

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.”(Quran, surah an-Naml 27:37)

Begitulah seharusnya pemimpin dalam mengambil setiap keputusan, selalu memprediksi masa depan sehingga dampak terburuk dari sebuah keputusan bisa dihindari. Ratu Balqis telah menunjukkan kepiawaiannya dalam menentukan kebijakan dan mengelola konflik.