Raut muka dan hati yang kusut dengan masalah

Jiwa Roni Haldi Alimi 19-Sep-2020
dreamstime_s_138779855
Raut muka dan hati yang kusut dengan masalah © Airdone | Dreamstime.com

Sebuah untaian kalimat hikmah dalam bahasa Aceh berbunyi “Meunyo get dalam hatee, lahe bak ie rupa. Meunyo brok dalam hatee, lahee bak peugah haba. Meunyo get niet ngon hasrat, laot darat Tuhan peulihara”.

Untaian hikmah di atas memiliki arti lebih kurang seperti ini, “Apabila baik di dalam hati, tampak terbayang di raut wajah. Apabila buruk di dalam hati, lahir terwujud dalam kata-kata. Dan apabila niat dan hasrat baik, laut dan darat Tuhan pelihara”.

Siapa yang tidak ingin tenang hidupnya. Bangun dari tidur tak ada gundah kecemasan menyesak dada. Dan beranjak menjemput tidur pun hati dan diri dalam kelapangan tak kepalang. Berjalan melangkah pasti tanpa keraguan dan tidur pun mata terpejam tak hiraukan dunia.

Itulah ketenangan sederhana namun terkadang sulit didapat oleh mereka yang dihimpit dililit segunung masalah hidup. Jika ingin memiliki ketenangan dan kedamaian dalam hidup, carilah tempat yang belum terkontaminasi dan belum tersentuh oleh kehidupan terkekang tak merdeka tak berdaulat.

Padahal kita sudah puluhan tahun terbebas dari penjajahan asing. Jika ingin meraih ketenangan dan kedamaian dalam hidup, minta lah tempat yang belum sedikitpun disusupi pikiran busuk lagi jahat.

Biasanya roman muka terdampak berat dari rusuhnya hati. Kalau hati bergolak tak tentu tak tenang, memuncak naik ke wajah memberengut kusut tak menentu. Muka yang kusut kerut mencerminkan isi dalam hati sedang bergelayut dengan segunung masalah.

Dan segunung masalah itulah yang membuat raut wajah kusut tak jernih. Raut muka adalah penampakan hati yang hakiki dan sulit ditutupi. Sepandai-pandai seseorang menutupi kegoncangan hatinya, tetap terbaca tampak di rupa muka. Busuknya hati akan memperkeruh jeringat muka tampak di mata.

Ikhlas bisa menjadi pengantar jiwa menjadi sehat. Agar raut muka tak kusut buruk tampaknya. Ahli psikologi Islam, Mohamad Soleh mengatakan hal itu selaras dengan al-Quran surah Al-Fajr, ayat 27 yang berbunyi: “Wahai Jiwa yang Tenang”. Dilanjutkan dengan ayat 28: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang meridai dan mendapatkan rida-Nya.”