Rifa’ah Tahtawy, tokoh pembaharuan Mesir modern

Dunia Muhammad Walidin 10-Agu-2020
Tugu Rifa’ah Tahtawy di Sohag University, Sohag, Mesir © Ahmadpontymageed CC0, Link

Mencari akar pembaruan di Mesir di segala bidang pasti akan bertemu dengan nama besar Rifa’ah Tahtawy. Ia menjadi salah satu dari 311 pelajar Mesir yang dikirim ke Italia, Perancis, Inggris, Austria dalam kurun waktu 1813-1849 oleh penguasa Mesir, Muhammad Ali Pasha (1769-1869).

Tekadnya ketika berangkat ke Perancis adalah mengkaji peradaban Barat utuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa Arab. Bukankah hal itu pernah dilakukan oleh para pendahulunya dengan melakukan transfer ilmu dari Yunani, Persia, dan India sehingga islam menjadi jaya. Saat ini, saatnya bagi Tahtawy untuk mengulang sejarah, di saat bangsa Arab memang sangat membutuhkannya.

Tahtawy lahir pada tanggal 15 Oktober 1801 di Tahta, distrik Suhaz, Mesir. Garis keturunan ayahnya sampai ke Rasulullah SAW dari jalur Husein bin Ali bin Abi Thalib, sementara ibunya bergaris suku al-Khazjraj al-Anshariyah, suku yang terukir dalam puisi Arab Jahiliyah. Ia menjadi yatim sejak usia 12 tahun dalam pengembaraan bersama keluarganya yang sering berpindah-pindah tempat.

Selepas kepergian ayahnya, ia kembali ke Tahta dan menimba ilmu di Bait al-Ilmi.  Di sana ia belajar fiqih, nahwu, sharaf, tasawuf, logika, tafsir, dan hadis. Di usia 16 tahun, ia meninggalkan Tahta dan berangkat ke Kairo untuk belajar di al-Azhar. Ia berguru kepada banyak ilmuwan dan ulama, salah satunya adalah Syekh Hasan al-‘Attar. Darinya, ia belajar tentang geografi, sejarah, kedokteran, matematika, astronomi, dan sastra.

Pada masanya, ia pernah bekerja sebagai pemimpin bataliyon tentara, tetapi kecenderungannya kepada ilmu telah menuntunnya memilih menjadi delegasi ilmu pengetahuan dan berangkat ke Perancis pada tahun 1826. Adalah al-‘Attar yang merekomendasikan Tahtawy kepada Muhammad Ali Pasha untuk menjadi delegasi ilmu pengetahuan.

Tahtawy memenuhi segala syarat, di antaranya kompetensi sebagai orang yang faham agama, cinta pengetahuan, dan keinginannya untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan rakyatnya, terutama tekad besarnya untuk membangkitkan negara-negara Arab dari kegelapan.

Tahtawy tercatat sebagai oksidentalis; orang Timur pertama yang mengkaji peradaban Barat dengan serius. Selama 5 tahun di sana, ia mempelajari segala hal dan menerjemahkan 12 teks berbahasa Perancis ke dalam bahasa Arab. Adapun temanya beragam, mulai dari sastra, sejarah, geografi, matematika, militer. Ia menyimpulkan pengamatannya tentang kemajuan Perancis dalam karya monumental berjudul Takhlish al-Ibriz fi Talkhish Bariz.

Di dalamnya, ia mengajak Arab untuk menempuh jalan yang sama yang telah dilalui Perancis namun tetap berpegang kepada nilai-nilai Islam sebagai pijakan. Menurutnya, ada dua faktor yang membuat Perancis maju, yaitu ekonomi dan peranan intelektual. Ia menyebut orang-orang yang berjasa dalam melahirkan peradaban modern, seperti Luther, Calvin Kepler, Halileo, Descrates, Kant, dan Francis Bacon.

Sepulangnya ke Mesir, ia bekerja sebagai penerjemah, pelatih untuk penerjemah, dan penyunting. Ada banyak julukan untuk Tahtawy atas jasanya membuka pintu kemajuan bagi Mesir. Ia dijuluki sebagai pemikir dan peletak batu pertama kebangkitan Arab Islam modern. Ia dianggap sebagai intelektual modern pertama dari Timur Tengah yang mendialogkan pemikiran Barat dan Timur. Ia adalah kritikus untuk sekularisme Barat dan penyeru islamisasi di berbagai bidang.

Tak heran bila seorang cendikiawan Mesri, Dr. Jabeer Usfour, saat peringatan 120 tahun wafatnya Rifa’at Tahtawy (1994) mengatakan, “Kalaulah tidak ada Tahtawy, niscaya negeri-negeri Arab akan tetap dalam kegelapan dan keterbelakangan.”

Tahtawy telah wafat dalam usia 72 tahun pada tanggal 27 Mei 1873. Ia meninggalkan peradaban baru bagi Arab dan Islam. Ia adalah penerang sebagaimana kakek buyutnya; Rasulullah SAW.