Robohnya rasa malu dalam jiwa

Keluarga 12 Mar 2021 Tholhah Nuhin
Tholhah Nuhin
Robohnya rasa malu dalam jiwa
Robohnya rasa malu dalam jiwa © Aaron Amat | Dreamstime.com

Ibnul Muqaffa’ mengatakan:

“Jika yang makruf itu menjadi jarang maka ia akan berubah (dalam pandangan manusia) menjadi sesuatu yang mungkar. Jika perkara yang mungkar itu membudaya maka bisa berubah (dalam pandangan manusia) menjadi perkara yang baik.”

Robohnya rasa malu dalam jiwa

Hari ini kita melihat perubahan yang begitu drastis. Dulu orang tua ketika ketahuan anaknya berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya (baca: pacaran) maka ia akan merasa tercoreng mukanya. Yang memakai pakaian tidak menutup penuh auratnya mereka akan merasa malu.

Namun kita jumpai hari ini, orang tua yang senang jika anak gadisnya didatangi setiap malam minggu oleh teman laki-lakinya. Dan sebagian malu jika anaknya tidak punya pacar. Bahkan banyak orang tua yang melatih anaknya – sadar atau tidak sadar – mengenakan pakaian yang semi telanjang.

Ada hal yang telah berubah, dan ini beriringan dengan robohnya rasa malu dalam jiwa. Dulu orang berpacaran akan sembunyi-sembunyi, hari ini kita dapat saksikan di banyak fly over, pasangan muda-mudi memadati pinggiran jalan itu dengan melakukan perbuatan yang menggambarkan robohnya rasa malu dalam diri.

Wajarlah jika Rasulullah SAW mengatakan bahwa:

“Malu adalah sebagian dari keimanan.”

(Hadis riwayat al-Bukhari, Kitab Al-Iman)

Memiliki dan mewariskan rasa malu

Membangun kembali saat ini “rasa malu” dalam setiap jiwa seorang mukmin sangatlah urgent. Wabilkhusus genarasi muda yang notabenen sangat rawan dengan pergaulan yang jauh dari nilai-nilai kebaikan.

Gaya hidup yang serba bebas dan mengikuti budaya yang hedonisme sangat berbahaya bila anak-anak muda tidak memiliki kekuatan rasa malu. Mereka akan terombang-ambing dalam peta jalan kehidupannya. Terseret pada pusaran keburukan dan kemaksiatan. Dan jauh dari kehidupan yang diharapkan ummat ini.

Semoga kiranya rasa malu dalam diri kita senantiasa terjaga kebugarannya. Semakin kuat mendorong kita untuk tidak meninggalkan nilai-nilai kebajikan, menguatkan kita untuk menjauhi keburukan, bahkan membencinya.

Semoga kita menjadi hamba Allah Taala yang gandrung dengan kebaikan, rindu untuk menikmatinya dan enggan bersahabat dengan kemaksiatan serta risih berdekatan dengan kezaliman.

Semoga Allah SWT memudahkan kita menjadi hamba yang memiliki rasa malu dan mewariskan rasa malu yang terpuji kepada generasi penerus.