Rumah Tahfiz ‘Kemurnian Hati’ di Masjid Cheng Ho, Palembang

Budaya Muhammad Walidin 21-Agu-2020
Masjid Cheng Ho di Palembang © Ruli Amrullah | Dreamstime.com

Suatu hari, saya berkunjung ke Masjid Cheng Ho, Palembang untuk menunaikan salat Zuhur. Saya tertarik dengan sebuah papan nama di sebuah sudut bangunan, ‘Rumah Tahfiz جلاء القلوب  (Kemurnian Hati)’. Nama yang indah!

Barangkali nama ini terinspirasi dari konsep Qalbu menurut Imam al-Ghazali (wafat 1111 Masehi). Menurut beliau, Qalbu dapat berfungsi membentuk kepribadian manusia dengan baik jika qalbu berada pada wilayah taqwa yaitu pendekatan diri dan selalu menyebut dan mengingat  Allah SWT, salah satunya adalah dengan selalu membaca firman-Nya.

Saya menemui Ustaz Rahmat sebagai Hafiz pengajar di lembaga tersebut. Ustaz Rahmat adalah jebolan Madrasatul Huffaz di Cirebon Jawa Tengah. Sebuah sekolah penghafal Quran yang cukup disegani karena diasuh oleh banyak ulama terkemuka. Beliau merupakan guru tahfiz kedua yang dimiliki yayasan Masjid Cheng Ho.

Sebelum datang ke Palembang, Ustaz yang berperawakan kekar ini telah malang melintang mengabadikan ilmunya ke berbagai pelosok Indonesia, di antaranya kepulauan Bangka Belitung dan  Batam. Menurut beliau, mencetak seorang hafiz itu tidak seperti matematika. Misal, yang mendaftar 100 orang, maka yang akan diwisuda sebagai hafiz mungkin 1/3 daripadanya.

Beliau menuturkan bahwa tanggung jawab sorang guru tahfiz itu begitu besar di hadapan Allah SWT. Membiarkan murid melakukan satu kesalahan dalam membaca huruf al-Quran adalah hal yang paling dihindari karena besarnya pertanggung jawaban tersebut. Langkah pertama yang harus diajarkan kepada semua santri adalah Tahsin, lalu Tajwid, baru Tahfiz.

Pada fase Tahsin, santri diajarkan cara makharij al-Huruf yang benar. Fase ini kadang menguras energi guru sebab lisan setiap orang mirip buah-buahan, begitu Ustaz Rahmat mengibaratkan. Ada lisan yang manis, kecut, bahkan pahit. Bagi lidahnya yang manis, melafalkan huruf secara benar akan terasa mudah. Namun bagi lisannya yang kecut apalagi pahit, butuh beberapa minggu untuk menyebutkan huruf perhuruf secara benar.

Pada fase Tajwid, santri diajarkan cara baca yang benar dalam membunyikan dan mengucapkan huruf-huruf dalam al-Quran. Fase ini tidak terlalu sulit walau juga butuh waktu sekitar sebulan. Setelah melalui kedua tahapan ini, barulah proses Tahfiz dimulai.

Santri diminta untuk menghafal dan melakukan dua kali setoran setiap hari. Setelah subuh santri akan menyetor hafaan baru, sementara sehabis salat Asar santri diminta untuk melakukan hafalan ulang (Muraja’ah). Bila santri berjumlah besar, maka setiap fase tersebut harus dibidangi oleh seorang guru. Saat pertama kali dibuka tahun 2017 Rumah Tahfiz ini memiliki 20 santri.

Namun, ketika ustaz Rahmat datang ke sini pada tahun 2018, ia mendapati 5 santri mukim yang sedang menghafal. Para santri ini tinggal di sebuah bangunan berlantai dua yang cukup representatif. Lantai bawah digunakan sebagai kantor Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI)  Wilayah Palembang dan juga ruang publik (dapur dan ruang makan). Sementara lantai atas terdiri dari 3 kamar untuk tempat tidur. Setiap kamar terdiri dari 2 ranjang bertingkat.

Dua orang santri sempat saya wawancarai. Santri Raka asal Muara Enim telah menghafal 28 juz selama 3 tahun, sementara santri Patri asal Banyuasin telah menghafal juz 24 dalam dua tahun. Untuk ruang menghafal, para santri bisa memilih tempat di mana saja. Masjid Cheng Ho ini berukuran 20 x 20 meter dengan luas tanah 4.990 m2. Beberapa bangunan penyangga lainnya tersedia, termasuk rumah bagi guru tahfiz.

Dengan kegiatan tahfiz al-Quran,  Masjid Cheng Ho ini ingin berkontribusi mencetak ulama masa kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam. Siapa yang tak kenal dengan Abdul Samad al-Falimbangi (Lahir 1704 Masehi) atau Masagus Haji Abdul Hamid yang atau Kyai Marogan? (lahir 1802 Masehi). Mereka adalah ulama emas era kesultanan. Oleh karena itu, proses mencetak ulama dimulai dari mencetak penghafal Quran. Kelak, alumni rumah tahfiz ini bisa disebar ke seluruh nusantara untuk mengabdikan ilmunya.