Rumaykiah: Penyair dan Permaisuri dari Sevilla

Eropa Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Rumaykiah: Penyair dan Permaisuri dari Sevilla
Rumaykiah: Penyair dan Permaisuri dari Sevilla © vavel.media

Menelusuri kejayaan kesusastraan Islam di Spanyol, saya sampai kepada nama-nama penyair perempuan yang menggelitik untuk diketahui. Ternyata bayak sekali penyair perempuan yang lahir di Spanyol, mulai dari pemimpin, kalangan penguasa, hingga budak belian.

Sebutlah saja nama Hassanah at-Tamimah, Aisyah binti Qadim dari Cordoba, al-Ghassaniyah al-Bajjaniyah, Hafsah al-Hijariyah, Zainab al-Mariyah, Amirah binti al-Kiram, dan Rumaykiah  de Sevilla.  

Rumaykiah: Penyair dan Permaisuri dari Sevilla

Nama terakhir, Rumaykiah  de Sevilla (w.1095)  mendapat tempat tersendiri di  hati saya sebagai penulis. Pastilah seru menemukan perjalanan cinta dan kepenyairan Rumaykiah  dari seorang budak hingga menjadi permaisuri al-Mu’tamid (1027-1095) penguasa Sevilla dari tahun 1042-1069 Masehi.

Cintanya kepada Rumaykiah membuat sang raja mengganti namanya sendiri dari Muhammad bin Abbad dan bergelar al-Mu’ayyad billah  menjadi al-Mu’tamid Alallah (yang bergantung kepada Allah), disesuaikan dengan nama istrinya, I’timad.

Rumaykiah bernama asli I’timad (kebergantungan). Ia adalah seorang budak Rumaik bin Hajjaj. Ia berparas cantik dan menawan. Pandai bersyair dan berbicara dan sering menyelipkan canda dan lelucon.

Seperti para wanita lain, suatu sore Rumaykiah sedang berada di Wadi al-Kabir (sekarang Sungai Guadalquivir) bersama wanita lain mencuci linen. Nampak dua orang pemuda bangsawan, yang diketahui bernama al-Mu’tamid dan Ibnu Ammar berjalan di pinggiran sungai sedang bermain puisi bersambut. Ia menantang sahabatnya untuk menjawab puisinya:

Al-Mu’tamid bersyair, “Angin mengubah sungai menjadi kumpulan surat berantai “. Belum sempat Ibnu Ammar membalas, seorang wanita pencuci linen membalas tanpa ragu puisi tersebut, “Armor, untuk apa pertempuran, jika membeku.”

Al-Mu’tamid terpana akan kecerdasan, kecantikan, dan kepandaian wanita tersebut dalam bersyair. Ia mengundang wanita itu ke istana. Walaupun status wanita tersebut adalah budak penyaji anggur, al-Mu’tamid tak ingin melepaskan cintanya dari wanita ini.

Rumaykiah sebagai permaisuri al-Mu’tamid

Ia menebusnya dari Rumaik bin Hajjaj dan membebaskannya serta menjadikannya sebagai permaisuri. Ia merupakan permaisuri yang paling dekat dengan al-Mu’tamid di antara istri-istri lainnya.

Sejak saat itu, Rumaykiah hidup dalam gelimang cinta al-Mu’tamid. Al-Mu’tamid yang merupakan raja dan juga penyair ini selalu menyusun puisi yang berkaitan dengan tema perang, pemerintahan, dan perluasan kerajaan Seville.

Namun, tema yang paling menarik adalah  cintanya yang dalam untuk istrinya dan kehidupan indah mereka bersama di istana. Al-Mu’tamid mengungkapkan perasaannya kepada I’timad dalam sebuah rapsodi akrostik yang ia gubah saat terpisah darinya:

“Tak terlihat oleh mataku, engkau selalu hadir di hatiku. Kebahagiaanmu, aku ingin menjadi tak terbatas, seperti desahanku, air mataku, dan malam tanpa tidurku. Tidak sabar akan kekang ketika wanita lain berusaha membimbingku. Engkau membuatku tunduk pada keinginanmu yang paling ringan. Keinginanku setiap saat adalah berada di sisimu.”

Pada 484 H (1091 M), Sevilla, ibu kota Bani Abbad, jatuh ke tangan Al-Murabitun. Rumaykiah dibawa bersama suami sebagai tawanan ke Maroko. Mereka tinggal sebentar di Tangier, lalu Meknes, dan akhirnya mereka menetap di Agmat.

Rumaykiah menemani al-Mu’tamid selama sisa hidupnya. Rumaykiah meninggal lebih dahulu sedikit dari suaminya. Ia dimakamkan di samping suaminya di mausoleum mereka di Agmat.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.