Saat di masjid Rasulullah SAW, Masjid Nabawi di kota Madinah

Agama Umri 13-Sep-2020
dreamstime_s_124846044
Bagian interior Masjid Nabawi © Razihusin | Dreamstime.com

“As-salamu ‘alaika ya Rasulallah! As-salamu ‘alaika Ya Nabiyallah! As-salamu ‘alaika ya Khitratallah! As-salamu ‘alaika ya Khalqillah! As-salamu ‘alaika ya Rasula Rabbil-‘Alamin.”

Begitulah cuplikan bacaan salam ketika di depan Makam Rasulullah SAW, mengucapkan salam kepada Rasul utusan Allah SWT, salam untuk Nabi Allah, salam untuk Nabi pilihan Allah, salam untuk Rasul seluruh alam. Alangkah indahnya jika kaki bisa berdiri langsung di depan Rasulullah SAW, sehingga menjadi impian setiap muslim ingin berziarah kepada Rasulullah SAW.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengunjungiku sepeninggalanku, maka seolah-olah mengunjungiku pada masa hidupku.” (Hadis riwayat Ath-Thabrani dan Ad-Daraquthni). Madinah adalah kota yang sejuk, hijau, lunak dan di sana ada makam Nabi Muhammad SAW. Keberkahan kota Madinah sudah ada sejak pertama kali Rasulullah hijrah ke kota ini.

Istri saya bercerita saat umrah tahun 2017, sebanyak 70 orang jamaah travel datang pukul 12:00 malam waktu Madinah. Langsung menuju hotel untuk mandi, berkemas lalu beristirahat. Pukul 4:30 pagi pergi ke Masjid Nabawi, ada rasa yang begitu indah di dalam hati saat pertama kali melihat Masjid Nabawi. Masjid ini merupakan masjid ketiga yang dibangun dalam sejarah Islam dan kini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia.

Lebih mengesankan lagi bahwa masjid ini adalah bekas rumah Nabi Muhammad SAW saat hijrah tahun 622 Masehi. Bangunan masjid ini dibangun tanpa atap, ini dijadikan tempat kumpul masyarakat pada zaman Baginda. Awalnya masjid ini hanya berukuran 50 meter x 50 meter dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Namun, sekarang masjid ini sangat luas, besar, megah dan selalu ramai oleh jamaah yang datang.

Kekaguman belum selesai sampai di situ, muthowif (pembimbing perjalanan untuk jamaah) memperkenalkan satu persatu semua yang berkaitan dengan Rasulullah SAW di kota Madinah. Di sana ada pasar yang sering dikunjungi Baginda, ada tempat kemesraan saat Aisyah r.a dan Rasul berlomba lari, ada juga tempat Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dibaiat menjadi Khalifah, ada replika rumah Baginda, diperlihatkan Bukit Uhud, burung-burung yang selalu ada di pelantaran Masjid Nabawi, dan sebagainya.

Istri saya melanjutkan, pada hari ketiga di kota Madinah berziarah ke makam Rasulullah SAW. Rasa merinding disekujur badan dan air mata tidak tertahan lagi ketika berada di Raudhah. Setidaknya ada dua alasan utama air mata mengalir. Pertama, impian untuk datang ke Masjid Nabawi terwujud.

Kedua, bertemu dengan Rasulullah SAW. Orang nomor satu di dunia dan Akhirat, namanya selalu disebut setiap hari dalam salat dan selawat, kisahnya dibaca sejak masih kecil, teladannya dipakai oleh orang tua di dalam rumah, syafaatnya sangat diharapkan di Surga kelak. Hari itu, bisa berdiri di depan makam Rasulullah.

Semua orang berlomba-lomba untuk bisa salat dan berdoa di Raudhah (Taman Surga), doa yang dipanjatkan di sini diyakini akan dikabulkan oleh Allah SWT. Raudhah terletak di antara mimbar dengan makam (dahulu rumah) Rasulullah SAW.

“Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku merupakan suatu taman di antara taman-taman surga, sedang mimbarku itu terletak di atas kolamku.” (HR Bukhari). Kita berdoa semoga semua bisa pergi haji dan umrah, melihat langsung dua kota suci. Bisa merasakan berkah dari Masjid Nabawi.