Safiyyah binti Huyay r.a: Istri ke-9 Rasulullah SAW

Sejarah Asna Marsono
Pilihan oleh Asna Marsono
Safiyyah binti Huyay r.a: Istri ke-9 Rasulullah SAW (foto: Jannat al-Baqi di era modern)
Safiyyah binti Huyay r.a: Istri ke-9 Rasulullah SAW (foto: Jannat al-Baqi di era modern) © madainproject.com

Safiyyah binti Huyay r.a adalah keturunan Harun bin Imran a.s. Awalnya nama asli  Safiyyah adalah Zaynab. Tetapi dia datang kepada para muslim sebagai barang rampasan dalam pertempuran  Khaibar dan kemudian diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada saat itu pemimpin rampasan perang disebut ‘Safiyyah’. Jadi dari sana Zaynab dikenal sebagai Safiyyah  dan nama aslinya hilang.

Pernikahan dengan Rasulullah SAW

Ketika umat Islam memenangkan pertempuran Khaibar pada tahun 7 Hijriah,  Safiyyah r.a ditangkap oleh muslim sebagai barang rampasan. Ketika ia adalah putri seorang kepala suku, Nabi Muhammad SAW membebaskannya dan kemudian menikahinya.

Menurut sebuah narasi dari Bukhari, Rasulullah SAW berhenti di tempat yang disebut Shabba’ dalam perjalanan kembali ke Madinah setelah menyelesaikan ekspedisi ke Khaibar.

Di sana Ummu Sulaim r.a menyisir kepala Safiyyah r.a, mengganti pakaiannya, dan mengoleskan parfum di tubuhnya. Kemudian dikirimkanlah dia kepada Nabi Muhammad SAW, dan berlangsunglah pesta pernikahan Rasulullah dengan Safiyyah.

Saling mencintai dan pengertian dengan Nabi

Safiyyah r.a memiliki kecintaan yang tak berujung pada Rasulullah SAW. Ketika Baginda berada di tempat tidur terakhirnya di rumah Aisyah r.a, Safiyyah dan istri-istri lainnya berkumpul untuk menemani dan melayani Rasulullah SAW.

Saat itu, Safiyyah r.a berkata dalam hati yang sangat berat: “Wahai Rasulullah SAW! Jika aku menderita semua deritamu, aku akan puas.” Mendengar ini, istri-istri Nabi yang lain saling memandang seolah-olah mereka memiliki keraguan dalam kata-katanya. Nabi berkata, “Demi Allah, sesungguhnya dia mengatakan yang sebenarnya.”

Demikianlah keadaan cinta Rasulullah SAW bagi Safiyyah r.a. Nabi Muhammad mencintai Safiyyah dan selalu berusaha membuatnya bahagia.

Safiyyah r.a menghadapi kritik dalam keluarga

Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji bersama Safiyyah r.a dan istri-istri lainnya. Dalam perjalanan, unta Safiyyah jatuh sakit dan duduk. Safiyyah ketakutan dan mulai menangis. Setelah mendengar berita itu, Rasulullah datang ke sana dan menghapus air matanya dengan tangan sucinya.

Tetapi ini tidak menghentikan tangisannya, bahkan meningkat. Rasulullah SAW berhenti di sana tanpa melihat perubahan. Pada malam harinya, Baginda berkata kepada istrinya yang lain, Zaynab binti Jahash r.a, “Wahai Zaynab, berikan Safiyyah unta.”

Zaynab r.a menjawab, “Haruskah aku memberikan unta kepada wanita Yahudi ini?” Nabi Muhammad SAW sangat tidak senang dengan balasannya dan menahan diri untuk tidak berbicara dengannya selama sekitar dua atau tiga bulan.

Akhirnya, dengan  bantuan Aisyah r.a, ketidakpuasan Baginda ini akhirnya dapat disingkirkan dengan susah payah. Latar belakang Safiyyah r.a sebagai seorang keturunan Yahudi merupakan suatu ujian yang paling berat bagi Safiyyah saat menjadi istri Rasulullah SAW.

Ciri-ciri karakter wanita Safiyyah r.a

Ummul Mukminin Safiyyah ra. adalah seorang wanita yang sangat bertekad. Dia selalu sabar dan tabah menjalani hidupnya. Beliau juga sangat murah hati. Dikatakan, dia menyumbangkan rumah tempat dia tinggal selama hidupnya.

Setelah datang ke Madinah sebagai ibu dari orang mukmin, dia juga membagi dua anting emas kepada Fatimah r.a, putri Nabi Muhammad SAW lainnya. Semua ahli Sirah telah memuji Safiyyah r.a karena kualitas moralnya.

Ibnu Abd Al-Bar mengatakan,”Safiyyah r.a adalah seorang wanita yang sabar, cerdas dan bijaksana.”

Ibnu Asir berkata, “Dia adalah salah satu wanita yang paling cerdas.”

Allama Zahabi  mengatakan, “Safiyyah r.a adalah wanita yang sopan, cerdas, berpangkat tinggi, cantik dan saleh.”

Safiyyah r.a meninggal dunia di Madinah pada bulan Ramadan tahun 50 Hijriah pada usia 60 tahun. Menurut Said Ibnu al-As, Muawiyah r.a memimpin doa pemakamannya. Safiyyah kemudian dimakamkan di Pemakaman Jannat Al-Baqi.