Salman al-Farisi r.a – sang pencari kebenaran

Sejarah 05 Jan 2021 Sanak
Sanak
Salman al-Farisi r.a - sang pencari kebenaran
Salman al-Farisi r.a - sang pencari kebenaran © Unknown (Murad III, Sultan of the Turks (1546-1595) was the patron) - CC0, Link

Dalam sejarah Islam kita mengenal sosok yang memiliki tekad yang kuat untuk mencari agama yang haq. Ia mengerahkan segala daya dan upaya menuju jalan Allah SWT. Melintasi banyak negeri dan berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mencari kebenaran.

Beliau adalah Salman al-Farisi r.a. Kisah ini sebagaimana yang diceritakan oleh Salman al-Farisi r.a kepada Ibnu Abbas r.a.

Anak pingitan

Salman al-Farisi r.a berasal dari Suku Ashbahan di Negeri Persia. Ayahnya yang menjadi pemuka kampung sangat mencintainya. Kecintaan yang berlebihan membuat Salman tidak diperkenankan untuk meninggalkan rumah kecuali hanya untuk beribadah, menyembah api.

Keyakinannya terusik ketika melihat orang-orang yang beribadah di gereja. Sang ayah yang mengetahui hal tersebut menjadi marah dan membelenggunya. Tetapi anak pingitan itu tidak putus asa, dengan niat yang sudah tidak terbendung beliau pun lari meninggalkan kampung halaman menuju Syam.

Pencari kebenaran

Setiba di Syam, Salman al-Farisi r.a tinggal bersama seorang pendeta di sebuah gereja dan menjadi pelayan di sana. Ternyata pemuka agama tersebut berakhlak buruk. Ia menimbun harta sedekah untuk kepentingan sendiri.

Salman r.a baru bisa membeberkan kecurangan tersebut setelah sang pendeta meninggal dunia. Kedudukannya digantikan oleh temannya yang rajin ibadah. Namun sayang, ia tidak berumur panjang. Di akhir hidupnya ia berwasiat agar Salman belajar agama dengan seorang pendeta yang ada di Mosul (sekarang di Irak).

Beberapa lama di Mosul, Salman al-Farisi r.a harus menerima kenyataan pahit karena pendetanya juga menutup usia. Beliaupun disarankan untuk pindah ke Nashibain (sekarang di Turki), hidup bersama pimpinan gereja yang baik hingga kematian menjemputnya.

Menjelang meregang nyawa, ia menganjurkan agar  Salman r.a menetap di Amuriyah, Romawi. Waktu berlalu demikian cepat, pemuka agama nasrani di Amuriyah ini juga harus pergi untuk selama-lamanya.

Sebelum kepergiannya, ia menyuruh Salman r.a untuk mencari seorang nabi dari tanah haram yang akan dinobatkan di tahun itu. Nabi tersebut memiliki tanda kenabian, berkenan menerima hadiah namun menolak sedekah.

Bertemu Rasulullah SAW

Dalam pengelanaan mencari tanah haram, Salman al-Farisi r.a dizalimi dan dijadikan budak. Jual beli atas dirinya berakhir di Yasrib, kota yang akan menjadi Kota Nabi. Tak berselang lama, akhirnya Rasulullah SAW tiba di Madinah.

Salman r.a yang penasaran segera membuktikan ketiga tanda  dari sahabat pendetanya. Perasaan mengharu biru dirasakan Salman ketika semua tanda itu benar adanya. Beliau pun segera mengikrarkan syahadat.

Dari kisah tersebut kita bisa menyimpulkan betapa berharganya nikmat Islam. Untuk mendapatkannya seseorang harus bersungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Dan pada akhirnya, Allah SWT adalah yang memberi petunjuk itu.