Samirah Semenanjung Arab – suara dalam masyarakat pemudi Arab

Dunia Muhammad Walidin 28-Sep-2020
samira-khashoggi-httpswww.howold.copersonsamira-khashoggi
Samirah Semenanjung Arab - suara dalam masyarakat pemudi Arab © peoplepill.com/

Nama Samirah binti al-Jazirah al-Arabiyah menjadi topik yang sering diperbincangkan di tahun 50-an. Kehebohan ini berkaitan dengan namanya yang dinisbatkan kepada al-Jazirah al-Arabiyah (Semenanjung Arab). Hal ini berlawanan dengan tradisi masyarakat Arab yang menisbatkan nama pada kakek moyangnya sebagai bentuk kebanggaan.

Ia menyukai nama pena ini. Namun, penerbit novelnya tak tahan menerima gempuran pertanyaan dari para pembaca bukunya tentang identitas pengarang. Akhirnya, penerbit tersebut membuka rahasia pengarang pemudi ini. Dialah Samirah, anak dari Dr. Muhammad Khasyiqaji.

Samirah lahir di Mekkah tahun 1943 dari keluarga yang terpandang. Tulisannya menjelma anak panah di tengah Semenanjung Arab dan membuat banyak orang terbangun dengan karya-karyanya yang menyentuh tentang permasalahan pemudi Arab. Ia lebih suka memakai istilah banat (pemudi) untuk  kisah-kisahnya.

Jelas, ia berpihak pada persoalan remaja/pemudi Arab, sesuatu yang biasa disembunyikan dalam derasnya arus patriarkhi. Akhirnya, Ia menjadi idola setiap pemudi Arab yang larut dalam air mata ketika membaca karyanya. Air mata yang benar adanya karena permasalahan mereka dibawa oleh Samirah dengan kejujuran dalam penggambaran dan indah dalam gaya bahasanya. Ceritanya menjadi hidup dalam setiap barisnya.

Karya-karyanya disukai pemudi, penikmat sastra dan pengharap perubahan. Di antaranya; Wada’at Amaly (1958), Zikriyat Dami’ah, Bariq Ainaik (1963), Qatarat min ad-dumu’ (1967) Wadi ad-Dumu’ (antologi cerpen, 1967), wa Tamdli al-Ayyam (antologi cerpen, 1969), Fi Biladi, Wara’a al-dhabab (1970), Ma’tam al-Wurud (1973),  dan Yaqzat al-Fatat al-Arabiyyah. (non fiksi).

Dalam banyak karyanya, ia memuntahkan amunisi penanya untuk membantu mengatasi permasalahan masyarakatnya. Ia menjadikan cerita sebagai wahana solusi bagi berbagai bentuk permasalahan pemudi di negaranya. Karyanya mengekspresikan segala permasalahan yang berseleweran, baik di benak, perasaaan,  maupun hati para remaja dan pemudi Arab.

Salah satu solusi cerdasnya dapat dilihat pada kumpulan cerpennya wa Tamdli al-Ayyam. Antologi ini  mengekspos realitas kehidupan di negeri Arab. Ada ajakan ambisius untuk membangun masyarakat baru yang terbuka, menjadikan pemudi sebagai unsur pembangun, aktif, dan bebas. Ya, sebuah ajakan ke arah masyarakat yang berkembang dan berbudaya. Tidak ada tempat untuk kebodohan dan keterbelakangan bagi pemudi.

Samirah membawa suara-suara pemudi Arab yang terbungkam tradisi patriarkhi. Tokoh-tokoh dalam ceritanya selalu menampilkan tokoh pemudi di mana ia bisa menitipkan suaranya untuk kemajuan para pemudi Arab. Targetnya, pemudi harus turut andil dalam membangun masyarakat. Dengan kontribusi tersebut, suara pemudi akan didengar.

Ajakan ini segera direspon oleh pemudi terpelajar Semenanjung Arab. Samirah segera menjadi idola. Posisinya semakin kuat untuk mengajak pemudi Arab untuk keluar dari tradisi-tradisi negatif, melakukan perubahan, dan andil dalam mengembangkan masyarakat.