Sang Penakluk Andalusia: Thariq bin Ziyad

Eropa 10 Mar 2021 Muhammad Walidin
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Sang Penakluk Andalusia: Thariq bin Ziyad
Sang Penakluk Andalusia: Thariq bin Ziyad (foto: Gibraltar atau Jabal Thariq) © Brett Critchley | Dreamstime.com

Ia adalah pemuda perkasa dari kabilah Nafzah.  Ia dilahirkan pada tahun 50 Hijrah atau 670 Masehi di Kenchela, Aljazair. Pemuda ini berhasil menaklukan Andalusia pada usia 41 tahun.

Berkat kegagahannya, namanya terukir dalam sejarah sejarah Eropa dan diabadikan dalam sebuah nama selat yang memisahkan antara Spanyol dan Maroko. Pemuda itu ialah Thariq bin Ziyad.

Andalusia: Sebelum kedatangan Islam

Semenanjung Iberia di selatan Spanyol dahulu kala bernama tanah Galia. Penduduknya bernama suku Vandal.  Penguasanya adalah bangsa Gothia di bawah kontrol kekuasaan Perancis.

Mereka memiliki raja bernama Roderick yang zalim terhadap rakyatnya. Akibatnya, rakyat sangat membenci raja ini. Istana-istana mewah dibangun hanya untuk kepentingan bangsawan.

Para petani dan buruh menanggung beban berat hingga tiada hari tanpa mengeluh. Sedangkan para pendeta yang awalnya menyerukan persatuan dan persaudaraan, kini diam saat diberi kekayaan serta jabatan.

Ekspedisi Dinasti Umayyah ke Iberia

Di lain sisi, Dinasti Umayyah di bawah kekhalifahan Al-Walid I sedang berjaya. Rakyatnya hidup makmur, aman, dan sejahtera. Keadilan dijunjung tinggi. Karena itu, rakyat Iberia terpaksa meminta bantuan kepada Khalifah Al-Walid I agar membebaskan mereka dari kezaliman Roderick.

Pesan diberikan kepada Gubernur Afrika Utara dari Dinasti Umayyah: Musa bin Nusair. Ia mengirimkan Tarif bin Malik sebagai ekspedisi pendahuluan (710 Masehi). Kemudian diutuslah ekspedisi kedua di bawah pimpinan Thariq Bin Ziyad dengan dibekali 7000 pasukan ditambah 5000 pasukan tambahan  (711 M).

Setelah itu, ekspedisi ketiga langsung dipimpin oleh Musa bin Nusair dengan 10.000 pasukan  (712 Masehi). Sejak kedatangan tiga kali ekspedisi Islam ini, daratan Iberia ditaklukkan dan kemudian dikenal dengan nama Andalusia (dari kata suku Vandal).

Thariq bin Ziyad: Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Di perjalanan, Thariq bin Ziyad bermimpi bertemu dengan Rasullah SAW. Dalam mimpi itu ia mendengar Rasulullah berkata: “Jangan gentar wahai Thariq!, Sempurnakanlah apa yang menjadi takdirmu”.

Terbangun dari mimpi tersebut, Thariqpun menjadi bersemangat. Ia memompakan semangatnya kepada para pasukan yang akan bersiap berperang dengan pidato yang sangat terkenal.

Bukit yang ditempati Thariq untuk berpidato pun dinamakan Jabal Thariq atau Gibraltar. Gibraltar sekarang adalah sebuah tanjung di pantai selatan Spanyol, yang juga termasuk Wilayah Luar Negeri Inggris.

Persiapan pasukan Islam ke Andalusia

Sebagai ekspedisi pendahuluan (Juli 710 Masehi), Musa bin Nusair telah mengirim 500 pasukan di bawah komando Tarif bin Malik. Pasukan Islam ini dikirim ke Iberia  hanya untuk mempelajari situasi setempat.

Setelah persiapan sudah cukup, dikirim lagi 7000 pasukan di bawah panglima perang Thariq bin Ziyad. Namun, karena mendengar gerak-gerik pasukan Islam, Roderick yang tengah sibuk mengatasi pemberontakan kecil di wilayahnya langsung megalihkan perhatiannya kepada kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.

Roderick mengirim 100.000 pasukan yagn dibekali peralatan lengkap, siap menerjang pasukan Thariq bin Ziyad. Mendengar hal itu, Thariq sedikit khawatir. Ia pun segera meminta bala bantuan kepada Musa bin Nusair.

Musa bin Nusair pun merespon permintaan Thariq. Dikirimlah pasukan tambahan yang berjumlah 5000 orang.

Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia

Pada tanggal 28 Ramadan 92 Hijriah bertepatan dengan 18 Juli 711 Masehi, Peperangan Guadelete pun pecah. Tiap-tiap tebasan pedang kaum muslim, bak petir yang siap menghantam musuh.

Pasukan muslim dengan jumlah yang sangat sedikit bertahan mati-matian. Pada hari kedelapan, kemenanganpun diraih oleh kaum muslimin yang berperang dengan bekal iman dan takwa serta dijiwai prinsip Syahid.

Masa pemerintahan raja Roderick yang zalim pun sirna. Perlahan namun pasti, tiap jengkal daerah Iberia dikuasai oleh umat Islam. Islam tidak hanya memenangkan pertempuran, namun juga memenangkan hati rakyatnya.

Islam mengajarkan rasa persaudaraan dan perbedaan. Tidak ada pemaksaan konversi agama dari Kristen ke Islam. Keindahan ajaran Islam dan perilaku para pendatang ini membuat agama ini mudah diterima dan berkembang di Andalusia.