Sang Penggembala dan empat keterampilan

Islam Komiruddin
Sang Penggembala dan empat keterampilan
Sang Penggembala dan empat keterampilan © - Dreamstime.com

Rasulullah SAW bersabda:

“Semua nabi pernah menggembala ternak.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan anda, ya Rasulullah?” Baginda menjawab, “Allah tidak mengutus seorang nabi melainkan dia itu pernah menggembala ternak. “Sahabat kemudian bertanya lagi, “anda sendiri bagaimana Rasulullah?” Baginda menjawab, “Aku dulu menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.”

(Hadis riwayat al-Bukhari)

Sang Penggembala dan empat keterampilan

Para Nabi a.s adalah mereka yang disiapkan Allah SWT untuk memimpin umat. Beban ini sangatlah berat, sebab dia akan berhadapan dengan beragam tipe manusia dan memiliki berbagai kepentingan.

Tentu mereka harus memiliki keterampilan keterampilan yang dengannya memungkin dia mengemban tugas yang maha agung tersebut. Paling tidak ada empat keterampilan yang wajib dimiliki setiap pemimpin agar dapat mengemban tugasnya.

  • Mengayomi
  • Memberikan kesejahteraan
  • Kebersamaan
  • Kemauan (tuntutan) jiwa

Dan empat keterempailan ini ada pada sang pengembala.

Yang dimaksud dengan mengayomi adalah memberikan rasa aman dan nyaman. Ini berarti seorang pengembala harus menjamin bahwa ternak yang digembalakannya aman dari gangguan baik dari dalam maupun dari luar.

Dari dalam, hewan ternak tersebut terjamin dari perlakuan yang tidak layak dari sang penggembala. Sedang dari luar, hewan ternak tersebut terjamin tidak ada serigala dan lainnya yang memangsa.

Maksud dengan memberikan kesejahteraan adalah ada jaminan ketersediaan makanan setiap harinya. Seorang penggembala akan selalu jeli mencari peluang agar dapat memenuhi kebutuhan pangan.

Yang dimaksud dengan kebersamaan, adalah membersamai ternak tersebut dalam setiap pase pertumbuhannya mengenal watak dan kebiasaan kebiasannya, sehingga dapat memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapinya.

Maksud dengan kemauan jiwa ini adalah kemauan yang berasal dari dalam jiwa. Pekerjaan menggembala bukan karena paksaan, tapi karena dorongan hati nurani. Dengan empat keterampilan ini maka sang penggembala sangat dimungkinkan dapat mencapai hasil yang memuaskan dari usahanya.

Empat nasehat yang spektakuler

Keempat keterampilan inilah yang ditanamkan Rasulullah SAW kepada pengikutnya saat hijrah dan baru menginjak bumi Madinah, pada tahun ke 13 kenabian. Baginda mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshor, lantas Baginda bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sebarkan salam diantara kalian, saling memberi makan, sambung silaturahim dan salat tahajud di malam hari ketika manusia pada tidur, kalian semua akan masuk surga dengan selamat.”

(Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Salam r.a dan Syekh Al Bani mensahihkannya)

Nasehat yang spektakuler dan sangat luar biasa. Konsep dasar untuk menyatukan hati-hati kaum muslimin dan fondasi awal untuk membangun peradaban Islam.

Ternyata dengan keempat nasehat ini, kaum muslimin hidup dengan penuh kebahagiaan. Nasehat ini betul-betul menciptakan tatanan masyarakat yang sangat ideal. Coba perhatikan keempat nasehat ini.

  • Afsyus salam, sebarkan salam. Kalimat ini isyarat akan adanya jaminan keamanan dan perasaan tenang. Bahwa kedatangan saya bukan untuk mengganggu tapi untuk menebarkan rasa aman dan nyaman
  • Wa ath’imutta’am, berilah makan. Ini isyarat adanya jaminan kesejahteraan, tidak khawatir terhadap kelaparan. Atau paling tidak dapat memberikan solusi terhadap masalah yang paling krusial yaitu perut
  • Wa shilur arham. Sambungkan silaturahmi. Ini isyarat adanya kebersamaan. Dengan adanya saling berkunjung, maka masing masing akan tahu kondisi saudaranya
  • Washallu billaili wan nas niyam. Salatlah pada malam hari sedang manusia tidur. Hubungan baik dengan Allah SWT akan memberikan jiwa yang kokoh dan spirit yang menyala sehingga dapat menggerakan kemauan untuk tetap bekerja

Sekali lagi, Inilah rahasia mengapa para Nabi a.s sebelum menjadi nabi memiliki pekerjaan mengembala kambing. Karena dengannya ia dipersiapkan untuk memimpin umatnya.