Sarjana berarti menjadi seorang kader Muslim

Sarjana berarti menjadi seorang kader Muslim © Suryo | Dreamstime.com
o ryo | Dreamstime.com

Indonesia sudah tidak kekurangan lagi para sarjana, bahkan sudah sampai ke berbagai daerah mulai dari  generasi 90-an sudah menyelesaikan pendidikan sarjana hingga sekarang. Maka dari itu, hadirnya para sarjana sebagai bukti bahwa Indonesia tidak buta huruf.

Persaingan di dunia kerja menjadi momok bagi para sarjana jika tidak bisa mengimbangi kemampuan diri dan meningkatkan kinerja. Namun hal terpenting bukan hanya perihal pekerjaan melainkan tugas sebagai seorang sarjana juga mengemban amanah mensyiarkan agama Islam yakni berdakwah.

Pada tanggal  29 September diperingati sebagai Hari Sarjana sebagai bentuk apresiasi terhadap para pejuang pendidikan dan kemajuan pendidikan bangsa. Kunci kemajuan pendidikan selanjutnya ada pada komitmen para sarjana dalam memberikan yang terbaik di masyarakat.

Seorang sarjana Muslim hendakanya memiliki karakteristik yang mulia yaitu: pertama sebagai dai, setelah menyelesaikan proses perkuliahan di perguruan tinggi tugas seorang sarjana yakni menjadi pendakwah. Berdakwah dalam menyiarkan Islam sehingga menjadikan suatu daerah rahmatan lil’alamin.

Kedua, berakhlak. Seorang sarjana Muslim hendaknya menjunjung tinggi akhlak yang baik dengan demikian menjadi contoh bagi orang lain di daerah tertentu. Tugas utama Rasulullah SAW yakni menyempurnakan akhlak, maka sebagai orang yang berpendidikan juga penting sekali untuk selalu menjaga akhlak agar tetap menjadi sarjana yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, cerdas dan komunikatif. Sarjana sesuai dengan latar belakangnya yaitu orang yang berpendidikan maka hal utama yang direalisasikan adalah ilmu yang didapatkan selama belajar. Maka, tunjukanlah kemampuan kita untuk menjadi sarjana yang berkualitas dengan selalu meningkatkan keimanan dan keilmuan. Ketika sudah menyelesaikan pendidikan maka harus siap menjadi mediator bagi orang lain untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan agama.

Oleh karena itu seorang akademisi hendaknya senantiasa membaca dan mengkaji kitab sekalipun sudah menuntaskan pembelajaran di kelas. Cerdaslah dalam memberikan informasi kepada orang lain, dan tetaplah rendah hati meski kita telah memperoleh pengalaman dalam menuntut ilmu.

Keempat, seorang sarjana bukan hanya mampu berkomunikasi yang baik tetapi juga bisa menempatkan diri yang bermanfaat bagi banyak orang. Sejauh ini sarjana yang ada di Indonesia semakin banyak, tidak heran jika masih banyak sarjana yang pengangguran. Maka dari itu, jadilah sarjana yang bisa menciptakan lapangan kerja baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Pada dasarnya seorang sarjana menjadi seorang kader dalam syiar Islam. Allah SWT berfirman dalam kutab-Nya: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Quran surah Al-i Imran, ayat 110)

Mulianya tugas sebagai manusia yakni berdakwah, menjadi wasilah Rasulullah SAW untuk mencegah kemungkaran dan mengajak pada hal-hal yang makruf. Oleh karena itu, jadilah sarjana yang tidak hanya cerdas tetapi beriman dan berakhlak. Dengan dasar keimanan seseorang bisa membawa diri agar selalu dalam petunjuk Allah SWT.