Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dan rekam jejaknya

Timur Tengah 01 Des 2020
Sanak
dreamstime_s_93749123
Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dan rekam jejaknya © Swisshippo | Dreamstime.com

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dan rekam jejaknya – siapa orang yang tidak mengenalnya? Sahabat nabi yang utama dan salah seorang yang telah dijamin masuk Surga. Keimanan yang tak terkira membuat gelar ‘seseorang yang membenarkan’ menjadi pantas untuknya. Dialah Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.

Sebelum memeluk Islam, Abu Bakar r.a telah memiliki kedudukan yang tinggi. Kehormatan yang telah dimilikinya semakin berbertambah ketika ia berikrar untuk menjadi hamba Allah SWT. Berikut fakta Abu Bakar sebelum masa kenabian Muhammad SAW.

Pakar nasab

Sebelum Islam, kemuliaan dan kehormatan di kalangan Quraisy dipegang sepuluh orang dari suku yang berbeda. Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a dari Bani Taim dipercaya untuk mengurusi diyat atau denda. Kaum Quraisy sangat mempercayainya karena beliau ahli nasab dan pakar tentang sejarah bangsa Arab.

Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dari ibunda Aisyah r.a.

“Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang Quraisy yang paling ahli dan paling paham tentang nasab.”

(Hadis Riwayat Muslim)

Pengusaha sukses

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a telah malang melintang dalam dunia peniagaan semenjak sebelum masa kenabian. Dengan modal empat puluh ribu dirham beliau menjelajahi negeri-negeri dari buhsra hingga ke Syam.

Dengan kekayaan ini beliau tidak lupa diri tetapi menjadi senang berbagi. Kedermawanannya begitu memikat hati orang orang ketika itu.

Tidak pernah mengerjakan maksiat

Pada fase awal kenabian, minuman keras masih diperbolehkan. Namun demikian Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a tidak pernah meneguk minuman yang memabukkan ini semenjak beliau dilahirkan. Selain itu beliau juga tidak pernah sekali pun sujud kepada berhala. Beliau menceritakannya ketika berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.

Sungguh akhlaknya yang terpuji, akalnya yang cerdas, pikirannya yang cemerlang dan fitrahnya yang lurus menjadikannya pribadi yang terjaga dari perbuatan yang mencederai muru’ah (marwah) atau kehormatan diri.

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a lahir dan tumbuh di lingkungan paganisme. Tak ada agama yang mengekang, dan tak ada syariat yang membimbing. Namun, beliau tetap memiliki idealisme. Sehingga sudah sepantasnya sosok tersebut menerima Islam dan berada di barisan pertama orang yang menerima kebenaran.

Betapa lemahnya iman kita, meskipun sudah berada di lingkungan agama tetapi masih bergelimang dosa. Tabik.