Segeralah berlari kepada Yang Maha Memiliki dan Menguasai

Masyarakat Roni Haldi Alimi
Terbaru oleh Roni Haldi Alimi
Segeralah berlari kepada Yang Maha Memiliki dan Menguasai
Segeralah berlari kepada Yang Maha Memiliki dan Menguasai © Xin Hua | Dreamstime.com

Menjauhkan dari sesuatu yang mengancam kelangsungan hidup acap kali dilakukan oleh manusia. Usaha mempertahankan diri, melakukan antisipasi sesegera mungkin. Ketakutan akan menjadi-jadi ketika ancaman membesar, memuncak terus mendekati. Segala upaya pasti diperbuat guna menjaga eksistensi.

Jika tak juga terasa aman terkendali, maka memicu diri untuk lari sekuatnya menjauhi. Impitan lipatan masalah hidup di dunia tentunya tak jarang datang. Ada kalanya datang dihadapi tapi jika tak kuasa dilerai selesai, maka diri termotivasi agar menjauhi.

Sumpah penyesalan, hadir tak terbantahkan

Peliknya kesulitan duniawi masih menyisakan ruang dan waktu untuk berpikir menghadirkan jalan keluar atau lari dari belitan kesemrawutan. Sangat jauh berbeda jika dihadapkan diri dengan dahsyatnya kesusahan yang memaksa membelalakkan biji mata menyaksikan kengerian peristiwa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh kita. Sebuah sumpah penuh kepastian hadir tak terbantahkan.

Sebuah sumpah dari Zat Yang Maha Kuasa bahwa tiada seorang pun dari penduduk langit maupun penduduk bumi, melainkan menyesali dirinya sendiri di Hari Akhir nanti. Ibnu Abu Hatim mengatakan dalam Tafsir al-Quran al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsir:

“Setiap orang menyesali perbuatan baik atau buruknya, dan ia mengatakan: Seandainya aku melakukan amal saleh tak berbuat buruk tentu berbeda yang akan diterima.”

Di hari itu, orang sangat berharap dikembalikan lagi hidup di dunia mengulang lakon Sirah Dzatiyah-nya untuk lebih baik agar peroleh tempat terbaik tentunya. Namun, harapan itu takkan kunjung kembali walau Yang Mahakuasa sangat mampu mewujudkannya dan bahkan lebih dari itu. Yang sulit—bahkan tak mungkin—bagi kita manusia, mudah saja bagi Allah SWT mewujudkannya.

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”

(Quran surah al-Qiyamah, 75:3)

Usaha mencari perlindungan

Berlari mencari perlindungan akan dilakukan oleh siapa saja yang terancam keselamatannya. Seorang anak akan berlari menjumpai orangtuanya demi peroleh kasih sayang.

Seorang bawahan akan berharap mendapat perlindungan jaminan kerja dari atasannya. Sang istri sangat berharap perlindungan kasih sayang suaminya. Semuanya berharap perlindungan. Lari mencari perlindungan kepada makhluk, bukan Khaliq.

“Pada hari itu manusia berkata: Ke mana tempat lari? Tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.”

(Quran surah al-Qiyamah, 75:10-12)

Imam Ibnu Katsir menyebut ayat ini kiamat besar. Tapi, jangankan kiamat besar, kiamat kecil saja tiada yang mampu mengelakkannya. Kedahsyatan situasi yang menggelegarkan manusia beserta seluruh isi dunia. Tidak ada tempat melarikan diri, melainkan kepada Penguasa alam itu juga.

Segeralah berlari kepada Yang Maha Memiliki dan Menguasai

Semasih kita hidup dan diberi kesempatan hidup, maka hiduplah berarti penuh budi. Hidup di dunia takkan diulang kedua kali. Walau kita ingin dan berharap sangat untuk hidup kembali ke dunia yang terbentang.

Sulit dalam hidup itu sudah pasti menghampiri, namun semuanya itu tak menjadikan diri salah tujuan lari. Jangan lari membawa diri ke perlindungan fana. Karena perlindungan tempat pelarian di dunia semuanya adalah fana, bukan kekal selamanya.

Jika sulit, lemah, kecewa, dan jatuh, maka bangunlah segera, berlari labuhkan diri dan hati kepada Yang Maha Memiliki dan Menguasai. Lepaskan hati dan diri dari belenggu totalitas kepatuhan lagi ketaatan kepada makhluk.

Murnikan penghambaan hati dan diri hanya kepada Allah SWT. Merdekakan hati dan diri dari kungkungan doktrin dan kultus makhluk atau kumpulan makhluk. Melangkahlah dan berlarilah memikul beban tanpa tertekan dibayangi butir doktrin buta yang menyempitkan pikiran dan menyesakkan dada.