Sehat jiwa atau hati

Islam untuk Pemula 23 Jan 2021 Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Sehat jiwa atau hati
Sehat jiwa atau hati © Narith Thongphasuk | Dreamstime.com

Agama Allah Ta’ala yang hanif ini tidak hanya membimbing dan mengarahkan umatnya agar senantiasa konsisten menjaga kesehatan tubuh dan fisiknya. Tetapi lebih dari itu; menjaga kesehatan hati dan jiwanya agar senantiasa bersih dari berbagai jenis penyakit yang dapat menggerogotinya.

Karena pada saatnya nanti, hanya hati yang bersih saja yang sanggup menuju Allah SWT. Yaitu masa ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna untuk para pemiliknya di dunia dahulu. Firman-Nya:

”Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus.”

(Quran surah asy-Syu’araa, ayat 88)

Sehat jiwa atau hati

Sangat banyak ayat Allah Ta’ala dan hadis Rasulullah SAW yang menyinggung tentang hati.  Yang semua itu tentu saja mengisyaratkan besarnya perhatian Allah dan Rasul-Nya terhadap hati manusia yang menjadi inti dan pusat kendali seluruh gerak dan aktivitasnya.

Bersih dan kotornya hati seseorang akan segera berdampak pada prilaku dan perbuatannya. Maka dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda:

“….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.”

(Hadis riwayat Imam Al-Bukhari)

Ada beberapa penafsiran terkait dengan ‘hati’ pada hadis di atas. Apakah yang dimaksud adalah gumpalan daging dengan makna sebenarnya yang juga merupakan salah satu organ penting dalam tubuh manusia.

Sehinggakan dada Rasulullah SAW dibedah oleh malaikat dan dibersihkan hatinya sebelum beliau diisra’ mi’rajkan. Ataukah ‘hati’ dengan makna implisit; sesuatu yang dapat kita rasakan kehadirannya dalam diri kita.

Selalu berusaha agar hati kita bersih

Terlepas dari semua itu, kita yakin bahwa pada diri setiap kita ada hati yang menjadi pusat control prilaku dan tindakan. Serta memberi pengaruh sangat besar terhadap apapun yang kita lakukan.

Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha agar hati kita bersih dari titik-titik hitam yang akan selalu menodainya. Seiring dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, sehingga hati itu menjadi hitam pekat karenanya.

Demikianlah makna salah satu sabda Rasulullah SAW, bahwa tidaklah seorang hamba melakukan sebuah dosa kecuali ada noda hitam pada hatinya. Bila ia segera beristigfar seraya bertaubat nasuha maka noda hitam itu pun sirna dan hatinya jadi bersih kembali.

Tapi bila dosa dan kemaksiatan semakin bertambah maka noktah hitam pun akan semakin bertambah hingga hatimnya hitam pekat. Inilah yang dimaksud oleh firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran:

“Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit itu atas mereka dan bagi mereka siksa yang pedih perih.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:10)