Sejarah puasa: Puasa umat Nabi Muhammad SAW

Puasa Asna Marsono
Asna Marsono
Sejarah puasa: Puasa ummat Nabi Muhammad SAW
Sejarah puasa: Puasa ummat Nabi Muhammad SAW © Tunahan Karadongel | Dreamstime.com

Ada beberapa perbedaan pendapat tentang sejarah puasa. Para ulama berbeda mengenai kapan dan puasa mana yang pertama kali wajib.

Puasa disebut ‘As-Siyam’ dalam bahasa Arab. Kata ‘As-Siyam’ secara harfiah berarti menjauhkan diri dari pekerjaan apa pun.

Pengantar puasa

Dalam Islam, puasa adalah ketika seseorang menahan diri dari makan dan minum, pemborosan, dan segala macam pelanggaran seksual dari fajar hingga matahari terbenam.

Menurut aturan Islam, wajib bagi setiap muslim dewasa yang beriman dan sehat untuk berpuasa setiap hari di bulan Ramadan. Menurut beberapa ulama, puasa pada 10 Muharram (yaitu Ashura) adalah kewajiban pertama.

Ada juga yang mengatakan awal berpuasa dilaksanakan setiap tanggan 13, 14, 15. Intinya, praktik puasa selalu ada. Dari zaman Nabi Adam a.s hingga waktu Rasulullah SAW, semua Nabi dan Rasul memiliki aturan puasa.

Sejarah puasa: Puasa pertama dalam sejarah manusia

Allah SWT memberlakukan aturan puasa pada bapak pertama kita, Nabi Adam a.s dan memulai amalan puasa untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia. Allah berfirman yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:183)

Dalam ayat di atas, ‘Min Qablikum‘ mengacu pada waktu semua Nabi – dari Nabi Adam a.s sampai Nabi Isa a.s. Sejauh sejarah puasa diketahui dari kajian Al-Quran dan Hadis, Allah SWT mempersilahkan Adam a.s untuk tinggal di Surga dan melarangnya memakan buah khuldi. Ini adalah instruksi untuk mengamati jenis puasa khusus.

Banyak ulama mengatakan bahwa ini adalah puasa pertama dalam sejarah manusia. Nabi Adam a.s dan Hawa a.s memakan buah pohon itu dihasut oleh setan. Allah Taala kemudian memberikan konsekuensi berupa menurunkan Adam dan Hawa ke muka bumi.

Kemudian mereka bertobat dan berpuasa selama 40 tahun berturut-turut sebagai agar diterima rida oleh Allah SWT.

Sejarah puasa: Puasa pada masa Nabi lain

Pada masa semua Nabi, ada aturan puasa. Namun, metode puasa berbeda-beda. Misalnya, Rasulullah SAW mengatakan tentang puasa:

“Nabi Nuh a.s berpuasa sepanjang tahun kecuali 1 Syawal dan 10 Dzulhijah.”

(Hadis riwayat Ibnu Majah)

Nabi Musa a.s berpuasa selama 30 hari sebelum Taurat diturunkan kepada Baginda. Kemudian Allah Taala  menurunkannya dan memerintahkan Musa untuk berpuasa lagi selama 10 hari.

Nabi Idris a.s juga biasa berpuasa setiap hari sepanjang tahun. Nabi Daud a.s berpuasa seling hari demi menebus perasaan bersalahnya kepada Allah SWT.

Hubungan historis puasa bersama Ramadan

Menurut sebuah hadis Rasulullah SAW, At-Thabari meriwayatkan dari Ad-Duy bahwa Baginda berkata:

“Telah diwajibkan pula bagi orang Nasrani puasa bulan Ramadan, diwajibkan bagi mereka tidak makan dan minum setelah bangun dari tidurnya. Dan diharamkan bagi mereka menikahi wanita di bulan Ramadan. Maka puasa Ramadan bagi mereka sangatlah berat, sehingga mereka menggantinya kadang di musim dingin dan musim panas. Ketika mereka menyadari kesulitan ini, akhirnya mereka bersepakat meletakan puasa Ramadan di antara musim dingin dan panas. Yaitu musim semi, dan mereka berkata: Akan kami tambahkan puasa selama 20 hari sebagai penebus dengannya atas apa yang telah kami perbuat. Maka mereka menjadikan total puasa Ramadan menjadi 50 hari.”

Bahkan dikatakan bahwa suhuf Nabi Ibrahim a.s diturunkan pada tanggal 1 Ramadan. Taurat diturunkan pada 6 Ramadan, Zabur pada 12 Ramadan, dan Injil pada 13 Ramadan. Meskipun bulan Ramadan tidak dihitung di luar Arab, dikatakan telah dihitung bersamaan dengan kalender asing.

Sejarah Puasa: Puasa umat Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW biasa berpuasa hanya pada hari Ashura (Muharram ke-10) setelah kedatangannya di Madinah. Diriwayatkan Ibnu Abbas:

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Lalu mereka pun ditanya (alasan apa mereka berpuasa di hari itu). Mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Israil atas Firaun. Karena itu, kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa.”

Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

“Sesungguhnya kami lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian. Lalu beliau perintahkan agar kaum muslimin puasa pada hari Asyura.”

(Hadis riwayat Muslim)

Kemudian pada tanggal 10 Syakban tahun kedua Hijriah, Allah SWT menurunkan sebuah ayat dalam kitab suci Al-Quran untuk membuat puasa di bulan Ramadan wajib, yaitu surah yang telah disebut di atas: Al-Baqarah, ayat 183.