Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Semua orang pasti ada kelebihannya

Pendidikan 23 Feb 2021
Komiruddin
Semua orang pasti ada kelebihannya
Semua orang pasti ada kelebihannya © Distinctiveimages | Dreamstime.com

“Jangan pernah meremehkan orang lain, sebab masing-masing memiliki kelebihan”.

Demikian kata mutiara yang dalam bahasa arabnya,  “Laa tahqir man dunaka wa likulli syai’in maziyyah.

Semua orang pasti ada kelebihannya

Serendah apapun kedudukan seseorang pasti memiliki potensi dan kelebihan. Setinggi apapun pangkat seseorang tetap akan membutuhkan orang lain. Tak ada satu orangpun yang bisa mengerjakan segala sesuatu dengan sendiri. Pasti ia membutuhkan orang lain sehebat apapun ia.

Seorang pejabat pasti membutuhkan sopir, memerlukan tukang rumput untuk membersihkan tamannya dan memerlukan beberapa pembantu di rumahnya. Tentu hal itu untuk urusan yang tidak mungkin ia kerjakan sendiri.

Sepintar-pintarnya manusia tetap ada keterbatasan. Tidak ada manusia yang mampu mengerjakan seluruhnya, pasti ia memerlukan bantuan orang lain.

Marilah kita belajar dari peristiwa yang pernah terjadi antara burung Hud-hud dan Nabi Sulaiman a.s, seorang nabi dan sekaligus raja. Angin, seluruh binatang dan jin berada di bawah kekuasaannya.

Namun, seluas itu kekuasaannya dan sebanyak itu bala tentaranya masih saja ada yang luput dari pengetahuannya.

“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

(Quran surah an-Naml, 27:22)

Menghargai, mendengar, menanggapi dan menindak-lanjuti

Itu ibrah yang pertama. Kedua, sekecil apapun kedudukan tentaranya tetap memiliki potensi dan kelebihan. Burung Hud-hud tidak lebih besar dari burung pipit.  Tapi dengan perannya satu negara tunduk dan menjadikan Islam sebagai agamanya.

Ketiga, setinggi apapun kedudukan Nabi Sulaiman a.s, beliau tetap mendengarkan laporan, walau dari prajurit terendah sekalipun. Maka, ketika Hud-hud melaporkan lawatannya dari negeri Saba, Nabi Sulaiman a.s mendengar dengan seksama dan langsung menanggapinya.

“Berkata Sulaiman: Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”

(Quran surah an-Naml, 27:27)

Keempat, Nabi Sulaiman a.s bukan hanya mendengar, akan tetapi ia tetap buat follow-up akan laporan tersebut.

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.

(Quran surah an-Naml, 27:28)

Demikian ibrah yang dapat kita petik dari peristiwa itu. Begitulah seharusnya sikap kita sebagai pemimpin: menghargai, mendengar, menanggapi dan menindak-lanjuti.