Seorang wisatawan beransel di Hagia Sofia

Hagia Sofia di musim dingin © Bennnn | Dreamstime.com

Suatu waktu di tahun 2018, saya sempat singgah di Bandara Ataturk, Turki dalam perjalanan menuju Madinah. Saya niatkan lain waktu tidak hanya transit, tapi akan mengeksplorasi Turki. Sebagai seorang wisatawan beransel (backpacker), bepergian ke Turki adalah sebuah daftar harapan (wish list).

Keramahan petugas imigrasi Turki yang terkenal ganteng dan cantik serta hangatnya sambutan masyarakat terhadap wisatawan memberikan kesan mendalam bagi para backpacker Indonesia, khususnya. Belum lagi ditambah dengan destinasi wisata yang sangat unik, seperti Cappadocia, Pamukalle, dan Bursa.

Sementara wisata arsitektural bisa dinikmati di Hagia Sofia, Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), dan Istana Topkapi. Kita juga bisa melihat peninggalan Byzantium dan Romawi, seperti Ephesus, Hippodrome Square, dan Hierapolis Ancient City.

Bila ingin sekedar berjalan-jalan santai, kita bisa mengunjungi Grand Bazar, Istiklal street, dan Takshim Square. Semua tentang Turki terekam indah dalam ingatan banyak pelancong, seindah bunga tulip di Emirgan Tulips Garden.

Saya sendiri membayangkan akan menghabiskan suatu sore dengan minum teh bersama istri di sebuah cafe di pinggiran selat Bosporus. Tentu pandangan akan saya arahkan ke lalu lintas kapal di atas selat yang biru, mendengarkan suara burung-burung camar, merasakan angin membelai rambut dan membuat syal saya berkibar, sambil melesapkan keindahan senja yang lamat-lamat mulai tenggelam.

Di antara sekian banyaknya destinasi wisata, mengunjungi Hagia Sofia atau Aya Sofia adalah keniscayaan. Gedung yang pernah disebut sebagai terbesar di dunia ini dibangun pada abad keenam sebagai katedral. Pada tahun 1453, gedung ini dijadikan masjid dibawah kekuasaan Ottoman, yang dipimpin oleh Sultan Muhammad al-Fatih.

Disebut bahwa al-Fatih membeli katedral ini dengan uangnya sendiri. Pada tahun 1934, masjid ini diubah menjadi museum oleh pemimpin sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk. Sebagai destinasi wisata, gedung ini menarik 3.7 juta pengunjung setiap tahun.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, tanggal 10 Juli lalu menetapkan gedung yang menjadi katedral selama 900 tahun itu sebagai masjid. Berbeda dengan pendahulunya Mustafa Kemal Ataturk yang memutuskan gedung ini menjadi museum dengan Dekrit Presiden yang terkesan otoriter, Erdogan memilih jalur hukum sejak tahun 2015.

Pemulihan museum menjadi masjid berangkat dari kebanyakan keinginan masyarakat Turki yang ingin mengembalikan fungsi gedung ini menjadi masjid. Akhirnya, pengadilan Turki membatalkan status bangunan ikonik yang ditetapkan UNESCO sebagai peninggalan bersejarah dan mengembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam.

Sejujurnya, menyaksikan animo masyarakat menghadiri salat Jumat pertama pada tanggal 24 Juli 2020 di masjid ini menimbulkan perasaan sublim bagi saya pribadi. Perasaan ini baru saya rasakan tiga kali dalam hidup saya. Pertama, saat anak perempuan saya lahir pada tahun 2005 di mana saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Tak bisa diuraikan dengan kata bahwa kami pergi ke rumah sakit berdua dan kembali ke rumah dalam keadaan bertiga.

Kedua, perasaan sublim itu muncul lagi saat mengikuti gerhana matahari yang melintasi kota Palembang 09 Maret 2016. Situasi gelap dalam beberapa menit kemudian benderang seperti sediakala menimbulkan sensasi yang tak bisa diurai dengan kata. Dan ketiga, ya salat Jumat pertama di Hagia Sofia ini. Antusiasme itu saya salurkan dengan mengikuti siaran langsung pelaksanaan salat Jumat pertama dan mengikuti berbagai webinar tentang Hagia Sofia.

Saya sering mendengar bahwa banyak pelancong yang diam-diam melakukan salat di sudut-sudut Hagia Sofia saat gedung ini masih menjadi museum, karena masih menganggap gedung ini sebuah masjid. Hal yang sama juga dilakukan beberapa pelancong Muslim yang mengunjugi Istana al-Hambra di Spanyol.

Mereka salat diam-diam dan tentu saja dilarang oleh sekuriti. Hagia Sofia telah membebaskan kerinduan kening Muslim untuk sujud di karpet produksi provinsi Manisa, salah satu pabrik karpet pertama di Turki.  Insya Allah berikutnya, saat kebebasan beribadah di al-Hambra dan Masjid al-Aqsha, semoga!